Uga Jasinga

"Dina hiji mangsa bakal ngadeg gedong hejo anu bahanna aya di leuwi curug, leuwi sangiang jeung nu sawarehna aya di girang. Ciri ngadegna gedong hejo lamun tilu iwung geus nangtung nu engke katelahna awi tangtu. Didinya bakal ngadeg gedong hejo di tonggoheun leuwi sangiang" * TiKokolot Jasinga*.

UPACARA ADAT ZIARAH SALEMBUR

KASEPUHAN ADAT CIPATAT KOLOT 
SUKAJAYA BOGOR

Ziarah salembur merupakan prosesi ritual adat yang diadakan setiap tahun setelah hari raya Idul fitri, yang melibatkan seluruh masyarakat kasepuhan Cipatat Kolot dan sekitarnya. 

Acara tersebut di pimpin langsung oleh ketua adat (Olot) yang bernama Abah Acim.

Sebelum menuju makam keramat, masyarakat kasepuhan berkumpul di rumah (gedong) tempat tinggal Olot dengan menyerahkan berbagai macam makanan seperti nasi uduk, nasi kuning, bakakak ayam, sate kambing, ati ampela , buah-buahan dan ada pula yang menyerahkan uang ataupun rokok serta kemenyan sebagai syarat prosesi ziarah.


Tepat pukul 07.00 pagi, masyarakat berbondong-bondong menuju makam keramat Buyut Cipatat (Eyang Pandita) yang berada tepat di bawah lembah Manapa dengan membawa syarat-syarat ziarah. 

Makam keramat tersebut berada di dalam sebuah bangunan yang ditutupi dengan kain hijau.

Acara dilaksanakan dan dipimpin oleh Olot dengan membaca doa-doa menggunakan bahasa Sunda dan Arab dengan membakar kemenyan, kemudian di susul oleh seorang Ustadz yang membacakan doa Tawasul. 
Setelah doa selesai, masyarakat dipersilahkan untuk menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan.

Setelah prosesi Ziarah Salembur di Makam Keramat Buyut Cipatat (Eyang Pandita) selesai, masyarakat Kasepuhan dipersilahkan berziarah ke makam keluarganya masing-masing yang berada di kompleks makam tersebut sekaligus membersihkannya.

Setibanya di rumah Olot, perwakilan masyarakat (kokolot) Kasepuhan Cipatat Kolot berkumpul untuk mengikuti acara pembagian kemenyan dan panglay (sejenis kunyit) untuk dibagikan kepada masyarakat dan berharap mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa.

Hikmah dari Acara ini yang bisa kita petik adalah masih terpeliharanya tradisi masyarakat Sunda yang masih tersisa dan juga rasa kebersamaan, rasa kegotongroyongan masyarakat Kasepuhan yang patut kita contoh.


KALAKAY JASINGA, 
September 2009



No comments:

Post a Comment