Sering Diilikan

Wednesday, November 18, 2009

Pitutur Kokolot Kasepuhan Adat Sihuut


Pitutur Kokolot Kasepuhan Adat Sihuut


Cerita yang kami dapat dari Kokolot Kasepuhan Adat Sihuut dari kunjungan ke Kampung ini adalah tentang asal-muasal Kasepuhan Adat yang ada di Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor. Cerita ini dimulai dari perjalanan Buyut Cipatat yang menempati beberapa wilayah di Bogor bagian barat dan kemudian meninggalkan ciri untuk daerah yang pernah disinggahinya hal ini dimungkinkan agar dikenali oleh beberapa keturunanya dikemudian hari. Daerah tersebut diantaranya:

  1. Panjaungan: di daerah ini ciri yang ditinggalkan adalah Pande Besi atau membuat peralatan dari besi seperti perabotan dan alat pertanian.

  2. Ciasahan: di daerah ini ciri yang ditinggalkan adalah membuat batu asahan untuk menunjang perajin pande besi dari daerah Panjaungan.

  3. Parung Sapi: di daerah ini ciri yang ditinggalkan adalah keilmuan dalam bidang agama Islam, oleh karena itu di daerah ini banyak kita jumpai pesantren.

  4. Sajira: di daerah ini ciri yang ditinggalkan adalah ilmu kejawaraan, oleh karena itu kebanyakan watak dari masyarakat ini berwatak keras.

  5. Seni Banten: di daerah ini ciri yang ditinggalkan adalah dibidang kesenian.


Setelah meninggalkan ciri di daerah-daerah yang pernah disinggahi akhirnya Buyut Cipatat kembali ketempat asal di daerah Cipatat Kolot sampai akhir hayatnya, kemudian dikuburkan di sebuah bukit yang ada di Cipatat Kolot dekat dengan lembah manapa. Sampai sekarang makamnya banyak diziarahi oleh masyarakat dan keturunannya serta menjadi acara rutin tiap tahunnya yaitu acara Ziarah salembur atau Ziarah satu kampung ke Makam Buyut Cipatat.

Selain dari cerita di atas, Abah Sahim juga menceritakan tentang Jasinga. di daerah ini dahulu ada seorang yang bernama Ma Enong yang diberikan kepercayaan untuk menyimpan pusaka berupa Goong Kabuyutan, Seeng Kabuyutan dan Kekenceng (Kawali) Kabuyutan.

Ada juga cerita tentang asal-muasal kenapa disebut Jasinga. cerita ini berawal dari bumi yang di huni oleh hewan yang dapat berbicara, dan seekor singa menjelma menjadi Pemimpin kemudian singa ini berkata “enak juga ternyata menjadi seorang Raja”. Karena manusia tidak sudi dipimpin oleh seekor Singa akhirnya Singa ini di beri madat atau bako (sejenis Rokok) untuk di hisap karena terlena dengan kenikmatan madat ini akhirnya singa ini dapat diusir ke daerah pakidulan (luar negeri) oleh bangsa manusia. Untuk cerita Singa ini bagi Kami hanyalah Foklore atau Cerita rakyat yang berkembang juga di daerah-daerah lain seluruh Nusantara dan mungkin juga seekor Singa ini adalah penggambaran tabiat manusia yang serakah.


Kalakay Jasinga, September 2009





No comments:

Post a Comment