Tuesday, November 18, 2008

PANGERAN ARYA PURBAYA “SINGA DARI BANTEN”

PANGERAN ARYA PURBAYA “SINGA DARI BANTEN”

Sedikit sekali sejarah Sunda yang mengisahkan Pangeran Arya Purbaya dari Kesultanan Banten dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Pangeran Arya Purbaya berusaha mempertahankan kebesaran Kesultanan Banten dari pihak pedagang VOC yang berusaha ingin memonopoli perdagangan bahkan berlanjut pada penjajahan.
Pangeran Arya Purbaya adalah salah satu putra dari istri-istri Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), yang menjadi penerus mahkota kesultanan yaitu Pangeran Gusti atau Sultan Abu Nasr Abdul Kahar (1672-1687) yang kelak disebut Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai beberapa istri diantaranya Ratu Adi Kasum sebagai permaisuri yang melahirkan Abdul Kahar (Sultan Abdul Nasr Abdul Kahar), dari Ratu Ayu Gede, Sultan Ageng dikaruniai 3 orang anak, yaitu P. Arya Abdul Alim, P. Ingayujapura (ingayudipura) dan Pangeran Arya Purbaya. Sedangkan dari istri-istri lainnya mempunyai beberapa anak yaitu P. Sugiri, TB. Raja Suta, TB. Husen, TB. Kulon, dan lain-lain.

Putra mahkota Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat menjadi pembantu ayahnya (Sultan Ageng) untuk mengurus urusan dalam negeri Kesultanan Banten. Sedangkan Pangeran Arya Purbaya membantu ayahnya untuk mengurus urusan luar negeri dan berkedudukan di Keraton kecil di Tirtayasa. Pemisahan pengurusan tata pemerintahan itu tercium oleh wakil VOC W. Chaeff yang menghasut Sultan Haji untuk mencurigai posisi adiknya yaitu P. Arya Purbaya, karena dapat mendominasi pemerintahan dan Sultan Haji tidak bisa naik tahta, atas hasutan Itulah terjadi persekongkolan antara Sultan Haji dan VOC.
Pada Bulan Mei 1680 Sultan Haji mengutus perwakilan untuk bertemu dengan Gubernur Jendral VOC di Batavia untuk mengukuhkan dirinya sebagai Sultan.
Pada tanggal 25 November 1680 Sultan Ageng Tirtayasa sangat marah kepada putra mahkota Sultan Haji karena ia memberi ucapan selamat kepada Gubernur baru Speelman yang menggantikan Rijkolf Van Goens padahal Kompeni baru saja menghancurkan gerilya Banten dan Cirebon. Dengan bantuan VOC, Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan menguasai Keraton Surosowan pada tahun 1681.
Pada tanggal 27 Februari 1682, pecah perang antara Ayah-Anak. Dalam waktu singkat, Sultan Ageng berhasil menguasai Keraton Surosowan. Pasukan Sultan Ageng berkoalisi dengan pasukan gabungan pelarian dari Makassar, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, Melayu. Karena daerah asal mereka dikuasai VOC dan menggabungkan diri dengan Banten, atas kekecewaan mereka terhadap raja-rajanya.
Sultan Haji berlindung di loji Belanda dan dilindungi oleh Jacob de Roy dan dipertahankan oleh Kapten Sloot dan W. Cheaff. Tanggal 7 April 1682 pauskan Kompeni dari Armada Laut mendesak Keraton Tirtayasa dan Keraton Surosowan, pasukan tersebut dipimpin Francois Tack, De Sain Martin dan Jongker. Sultan Ageng gigih berjuang dibantu Syekh Yusuf dari Makassar dan Pangeran Purbaya, serta Pasukan Makassar, Bali dan Melayu yang bermarkas di Margasana.
Tanggal 8 Desember 1682 Kacarabuan, Angke dan Tangerang dikuasai VOC, Sultan Ageng bertahan di Kademangan, tetapi pertahanan akhirnya jatuh juga setelah terjadi pertempuran sengit, pasukan Kademangan yang dipimpin P. Arya Wangsadiraja akhirnya mengungsi ke Pedalaman Banten yaitu Ciapus, Pagutan dan Jasinga.
Pada tanggal 28 Desember 1682, Pasukan Jongker, Michele dan Tack mendesak Keraton Tirtayasa, Sultan Ageng berhasil menyelamatkan diri dengan terlebih dahulu Pangeran Purbaya membakar Keraton Tirtayasa untuk menyelamatkan Ayahnya, Sultan Ageng, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf Makassar mengungsi ke Sajira dan Muncang. Sementara Pangeran Arya Purbaya dan pasukannya bergerak ke Parijan pedalaman Banten hingga ke Jasinga karena Pasukan Arya Wangsadireja berlebih dahulu mengungsi ke Jasinga.
Sultan Haji mengirimkan utusan ke Sajira untuk berdamai dan akhirnya pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Arya Purbaya mendatangi Surosowan. Akibat akal licik VOC dan Sultan Haji, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dibawa ke Batavia untuk diadili. Pangeran Purbaya berhasil meloloskan diri.
Pangeran Perbaya, Pangeran Kulon dan Syekh Yusuf Makassar meneruskan perjuangan melawan Kompeni. Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukan yang berjumlah 5000 orang, 1000 diantaranya Melayu, Bugis, Makassar yang siap mati bersama gurunya bergerak menuju Muncang terus ke Lawang Taji (Jasinga) menyusuri Sungai Cidurian kemudian ke Cikaniki terus ke Ciaruteun melalui Cisarua dan Jampang kemudian meneruskan ke Sukapura dan Mandala dengan tujuan Cirebon. Pangeran Purbaya kemudian menyusul bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake beserta pasukannya hingga ke Galunggung dan Singaparna (Tasikmalaya).
Pada tanggal 25 September 1683 pasukan Pangeran Kidul dan Pasukan Banten dan Makassar gugur di Citanduy (Padalarang). Syekh Yusuf Makassar ditangkap oleh Van Happel yang menyamar sebagai orang muslim, dibuagn ke Cape Town (Afrika Selatan). Pangeran Purbaya sempat mempertahankan pedalaman Banten dna membuat garis batas di Cikeas (antara Banten dan Batavia), Pangeran Purbaya mempertahankan Banten Selatan. Ia meneruskan perjuangan Syekh Yusuf Makassar dan akhirnya Pangeran Purbaya bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake gugur dalam pemberontakan di Galunggung (Tasikmalaya).
Sekelumit tentang Pangeran Purbaya dalam sejarah autentik sangat berjasa dalam mempertahankan Banten dan dipercaya oleh Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Makassar bahkan pasukan koalisi Makassar, Bugis dan Melayu.
Kisah Pangeran Purbaya dalam “Riwayat Jasinga Baheula” dengan menggunakan jenis huruf Pegon dengan dua bahasa yaitu bahasa Sunda dan Jawa Serang (Banten) secara singkat diceritakan bahwa Pangeran Purbaya adalah Patih atau Wakil Sultan Ageung Tirtayasa dan dalam perjalan ke pedalaman hutan Banten, Pangeran Purbaya beradu tanding dengan Gajah Putih, Patih dari Sriwijaya di Palembang, Sumatera. Mereka bertarung selama 40 hari 40 malam dan berakhir di Kadu Picung yang sekarang bernama Kadu Urug, Kadu Bungbang-Banten. Dalam pertarungannya keduanya sama kuat, namun pada akhirnya Gajah Putih kalah dan tenggelam kemudian berubah menjadi Gunung Krakatau.
Pangeran Purbaya terus berkelana dan berubah menjadi Singa jelmaan, hingga akhirnya singgah di Dukuh Buaran dekat Sungai dan Hutan. Kemudian ia berlindung di bawah rumah panggung yang tinggi sampai malam hari. Rumah itu milik Aki dan Nini, Aki tersebut bernama Buyut Apong atau Syekh Mustofa penduduk asli Buaran. Pangeran Purbaya dengan kondisi yang lelah dan pakaian compang-camping akibat bertarung dengan Gajah Putih dan bersembunyi menjelma menjadi Singa. Ketika sang Aki hendak keluar dan membawa Obor Baralak (Obor dari daun Kelapa kering), ia pun terkejut melihat seekor Singa bersembunyi di bawah rumahnya, sang Aki pun terkejut, dan berkata “ee…., Ja… Singa et amah….” Maka lokasi rumah itu dijadikan daerah dengan nama Jasinga (sekarang Kp. Jasinga).
Kemudian dikisahkan lagi bahwa Pangeran Purbaya yang berubah menjadi Singa yang bertempur dan mencakar cadas hingga berdarah (sekarang menjadi desa Singabraja, di Daerah Kec. Tenjo, Bogor). Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke Bali (Singa raja) dalam syiar Islam. Tapi akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jasinga, tapi ditengah perjalanan Pangeran Purbaya mengalami sakit (parna) hingga daerah tersebut diberi nama Singaparna, hingga akhirnya wafat di Gunung Galunggung.
Itulah kisah Pangeran Purbaya yang diceritakan dalam gaya bahasa Metafora dan berunsur mitos (babad) yang menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah Banten yang diramu dalam mitos dan legenda.
Kisah diatas menggambarkan peran Purbaya yang sangat berharga dalam kepahlawanan Banten. ada benarnya jika Pangeran Purbaya digambarkan seekor Singa dan Belanda digambarkan Seekor Gajah Putih. Dan kaitannya dengan Jasinga sebagai tempat berlindung Pangeran Purbaya ketika terjadi kudeta Sultan Haji.
Pangeran Purbaya sangat berjasa alam mempertahankan Banten terutama Banten Selatan. Pangeran Purbaya berkoalisi dengan Untung Suropati (Jawa Timur) ia pun membatasi untuk melawan Belanda dengan garis antara orang-orang Mataram, Batavia dan Sunda yang ada di Cikeas. Hingga kini nama Purbaya dijadikan nama suatu daerah di Sukabumi. Nama Jasinga pun dikaitkan dengan tokoh Purbaya (Ee…, Ja… Singa, eta mah…). Karena kata “Ja’ adalah kata identik Jasinga untuk mempertegas kata yang dimaksud. Sama halnya dengan kata “Da” yang ada di daerah Priangan.
Dalam kisah atau riwayat Sunda lainnya Pangeran Arya Purbaya disebut juga Pangeran Perbaya atau Pangeran Purabaya.
Itulah jasa Pangeran Arya Purbaya yang tidak bisa kita lupakan dalam menentang penjajahan Belanda.

Sumber :
1. Banten dalam pergumulan sejarah Sultan, Ulama dan Jawara., Nina H. Lubis. 2003
2. Catatan Masa Lalu Banten.
Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudori, 1993.
3. Sejarah Bogor 1, Saleh Danasasmita, 1983.
4. Sesepuh Cisonggom, Jasinga, Bogor.
5. Sesepuh Jasinga.
6. Naskah Mertasinga, Cirebon.


Disusun oleh :
Kalakay Jasinga, 2007

No comments:

Post a Comment