Sering Diilikan

Saturday, May 7, 2016

Perbedaan Bahasa Sunda Priangan dan Sunda Banten


Bahasa Sunda yang berada di Banten, serta yang berada di daerah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Bandung, dll.) memiliki beberapa perbedaan. Mulai dari dialek pengucapannya, sampai beberapa perbedaan pada kata-katanya. Bahasa Sunda di Banten juga umumnya tidak mengenal tingkatan, Bahasa Sunda tersebut masih terlihat memiliki hubungan erat dengan bahasa Sunda Kuna. Namun oleh mayoritas orang-orang yang berbahasa Sunda yang memiliki tingkatan (Priangan), Bahasa Sunda Banten (Rangkasbitung, Pandeglang) digolongkan sebagai bahasa Sunda kasar. Namun secara prakteknya, Bahasa Sunda Banten digolongkan sebagai Bahasa Sunda dialek Barat. Pengucapan bahasa Sunda di Banten umumnya berada di daerah Selatan Banten (Lebak, Pandeglang).

Berikut beberapa contoh perbedaannya: 

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda(Banten) Bahasa Sunda(Priangan) 

sangat/ jasa /pisan 
dia/ nyana/ anjeunna 
susah/gati/ hese 
seperti /doang /siga 
tidak pernah/ tilok /tara 
saya/ aing /abdi 
mereka /maraneh /aranjeuna 
melihat /noong ningali/nenjo 
makan /hakan /tuang dahar 
kenapa/ pan/ naha 
singkong/ dangdeur /sampeu 
tidak mau/ embung/endung/ alim 
belakang /Tukang/ Pengker 
repot /haliwu /rebut 
Baju /Jamang/ Acuk 
Teman /Orok /Batur


Contoh perbedaan dalam kalimatnya seperti:
Ketika sedang berpendapat:
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Jeuuuh aing mah embung jasa jadi doang jelma nu kedul!"
Sunda Priangan: "Ah abdi mah alim janten jalmi nu pangedulan teh!"
Bahasa Indonesia: "Wah saya sangat tidak mau menjadi orang yang malas!"
Ketika mengajak kerabat untuk makan (misalkan nama kerabat adalah Eka) :
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Teh Eka, maneh arek hakan teu?"
Sunda Priangan: "Teh Eka, badé tuang heula?"
Bahasa Indonesia: "(Kak) Eka, mau makan tidak?"
Ketika sedang berbelanja:
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Lamun ieu dangdeur na sabarahaan mang? Tong mahal jasa."
Sunda Priangan: "Dupi ieu sampeu sabarahaan mang? Teu kénging awis teuing nya"
Bahasa Indonesia: "Kalau (ini) harga singkongnya berapa bang? Jangan kemahalan."
Ketika sedang menunjuk:
Sunda Banten (Rangkasbitung): "Eta diditu maranehna orok aing"
Sunda Priangan: " Eta palih ditu réréncangan abdi. "
Bahasa Indonesia: "Mereka semua (di sana) adalah teman saya"

Meski berbeda pengucapan dan kalimat, namun bukan berarti beda bahasa, hanya berbeda dialek. Berbeda halnya dengan bahasa Sunda Priangan yang telah terpengaruh dari kerajaan Mataram. Hal itu yang menyebabkan bahasa Sunda Priangan, memiliki beberapa tingakatan. Sementara bahasa Sunda Banten, tidak memiliki tingkatan. Penutur aktif bahasa Sunda Banten saat ini, contohnya adalah orang-orang Sunda yang tinggal di daerah Banten bagian selatan (Pandeglang, Lebak). Sementara masyarakat tradisional pengguna dialek ini adalah suku Baduy di Kabupaten Lebak.
Sementara wilayah Utara Banten, seperti Serang, umumnya menggunakan bahasa campuran (multi-bilingual) antara bahasa Sunda dan Jawa.

Kalakay Jasinga

No comments:

Post a Comment