Sering Diilikan

Monday, April 6, 2009

BATU TAPAK TAK LAGI KEBASAHAN

"Batu Tapak" Tak Lagi Kebasahan

Mulyawan Karim

Bongkahan batu itu berdiri kokoh di atas landasan semen, di bawah bangunan saung alias cungkup berukuran 7 x 7 meter, yang berdiri tak jauh dari bibir tebing Sungai Ciaruteun di Muara Jaya, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Itulah batu bertulis yang dikenal sebagai Prasasti Ciaruteun.

Prasasti Ciaruteun adalah salah satu peninggalan sejarah yang menjadi tonggak awal sejarah Indonesia. Dalam buku-buku pelajaran sejarah, Prasasti Ciaruteun selalu disebut sebagai bukti keberadaan Kerajaan Tarumanagara (abad ke-4 sampai abad ke-7), yang bersama Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur merupakan kerajaan Hindu tertua di Nusantara.

Di permukaan batu sebesar anak lembu itu—panjang sekitar 1,6 meter dan tinggi 1,5 meter—terpahat sepasang telapak kaki manusia.

Di sampingnya ada pula pahatan kata-kata Sanskerta yang ditulis dalam huruf Palawa, membentuk puisi empat baris, yang artinya: "Kedua jejak kaki yang seperti telapak kaki Dewa Wisnu ini adalah milik raja dunia yang gagah berani lagi termasyhur, Purnawarman, penguasa Tarumanagara".

Purnawarman, raja ketiga Tarumanagara, yang berkuasa pada tahun 395-434, adalah putra Daryawarman, Raja Tarumanagara sebelumnya.

Setelah dinobatkan, Raja Purnawarman langsung memindahkan ibu kota kerajaan dari Jayasingapura ke tempat yang letaknya lebih ke utara, yang kemudian dinamakan Sundapura. Konon, Jayasingapura itulah tempat yang kini dikenal sebagai Kecamatan Jasinga di Bogor.

Kunjungan anak sekolah

Karena selalu disebut dalam pelajaran sejarah di sekolah, sejak lama banyak warga Jakarta, Bogor, dan sekitarnya yang penasaran ingin melihat sendiri Prasasti Ciaruteun. Apalagi, juga sering disebut, di dekat lokasi prasasti itu, yang oleh warga setempat sering disebut sebagai batu tapak, juga ada batu bertulis lain yang berhias pahatan telapak kaki gajah milik Raja Purnawarman.

Kecamatan Cibungbulang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Bogor. Dengan kendaraan umum atau pribadi, perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu jam, melalui jalan raya menuju Leuwiliang, di sebelah barat Bogor.

Petunjuk jalan menuju situs arkeologi Kampung Muara Jaya bisa ditemui beberapa kilometer selepas Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) di Darmaga.

Setelah berbelok kanan dan melewati Pasar Ciampea, kita masih harus berbelok ke kiri, ke jalan sempit yang diapit kebun-kebun singkong dan buah-buahan. Di tengah salah satu lahan kebun buah itulah cungkup Prasasti Ciaruteun itu berdiri.

"Tiap hari ada saja yang datang," kata Atma, warga Muara Jaya yang penjaga Prasasti Ciaruteun saat ditemui, pertengahan pekan lalu.

"Mereka datang dari Bogor, Jakarta, dan Bandung. Malah, baru-baru ini ada suami-istri yang datang dari Surabaya. Turis asing pun kadang-kadang ada," kata Atma (53) yang karyawan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, yang wilayah kerjanya mencakup Bogor.

Namun, pengunjung terbanyak adalah pelajar sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) dari berbagai daerah, terutama Bogor, Jakarta, dan Depok. Tiap bulan, rata-rata ada lima rombongan sekolah yang datang. Tiap rombongan yang bisa mencapai 100 siswa lebih datang didampingi para guru.

Kehadiran anak-anak sekolah inilah yang membawa rezeki tambahan bagi Atma. "Kalau ada rombongan, saya bisa dapat uang tips sampai Rp 50.000," kata Atma yang fasih bercerita soal riwayat batu bertulis yang ia jaga.

"Lumayan untuk menambah uang honor yang pas-pasan," ujar petugas yang honorarium resminya sebagai perawat prasasti hanya Rp 200.000 per bulan.

Ditarik ke darat

Saat pertama kali ditemukan pada abad ke-18, Prasasti Ciaruteun berada di dasar Sungai Ciaruteun, anak Sungai Cisadane. Prasasti itu tepatnya ditemukan di dekat tepi selatan Sungai Ciaruteun, sekitar 100 meter dari muaranya di Sungai Citarum.

Seperti bebatuan lain yang terserak di Ciaruteun, prasasti itu pun selalu basah terendam air. Cuma bagian yang bertulis dan pahatan telapak kaki Raja Purnawarman saja selalu kering karena terletak di bagian atas.

Pada bulan Juni 1981, peninggalan sejarah tersebut baru dipindahkan ke darat. Kegiatan pemindahan dilakukan sebuah tim arkeologi dengan biaya dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

"Batu ditarik oleh 20 orang yang dibagi ke dalam dua regu yang bekerja bergantian. Meski sudah dibantu katrol, setiap jam batu hanya bergeser rata-rata lima sentimeter saja," kata Atma, yang mengaku ikut terlibat dalam kegiatan pemindahan, 25 tahun lalu itu.

"Baru setelah sebulan batu seberat delapan ton itu sampai di tempat ini," jelasnya sambil menunjuk batu yang kini berada di sisi utara Ciaruteun, sekitar 100 meter dari lokasinya yang asli.

Pemindahan dilakukan juga agar penjagaan dan perawatannya lebih gampang. "Dulu, batu sering dicoret-coret pengunjung iseng. Anak-anak muda merusak dengan ikut memahatkan di sana dengan paku nama dan tanggal kunjungan mereka," kata Atma sambil menunjuk beberapa pahatan liar yang masih jelas terlihat.

"Di sini lebih aman. Saya bisa lebih gampang mengawasinya setiap hari," kata Atma yang rumahnya terletak cuma beberapa puluh meter dari cungkup Prasasti Ciaruteun alias batu tapak.

Dengan ditariknya ke darat, prasasti tersebut tidak basah lagi. Dan, prasasti itu sekarang lebih mudah dilihat.




No comments:

Post a Comment