Uga Jasinga

"Dina hiji mangsa bakal ngadeg gedong hejo anu bahanna aya di leuwi curug, leuwi sangiang jeung nu sawarehna aya di girang. Ciri ngadegna gedong hejo lamun tilu iwung geus nangtung nu engke katelahna awi tangtu. Didinya bakal ngadeg gedong hejo di tonggoheun leuwi sangiang" * TiKokolot Jasinga*.
Tampilkan postingan dengan label CARITAAN BARUDAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CARITAAN BARUDAK. Tampilkan semua postingan

TOLOK ALAT PERTANIAN DARI ANYAMAN BAMBU



Tolok atau disebut juga Epok adalah wadah yang biasa dibawa oleh petani jaman dulu yang terbuat dari anyaman bambu, kini sudah sulit sekali ditemukan. Karena dalam memanen padi saat ini menggunakan arit dan langsung dimasukkan ke karung, jadi alat-alat seperti epok, etem, dan lainnya sudah jarang sekali digunakan.

Fungsi tolok atau epok ini sebagai tempat menyimpan sisa-sisa potongan padi ketika memotong padi dengan menggunakan etem (ani-ani). 

Cara membawa tolok atau epok ini yaitu mengikatkannya dengan tali yang diletakkan di pinggang. Selain digunakan sebagai tempat sisa padi dapat juga digunakan sebagai tempat nasi timbel ketika berangkat menuju sawah atau huma.

Dalam kamus bahasa sunda "A Dictionary of The Sunda Language of Java" karya Jonathan Rigg, epok adalah tempat seureuh yang terbuat dari rotan. Tempat bambu kecil yang dipakai untuk memotong padi untuk mengumpulkan kepalanya yang tidak memiliki batang. Tolok juga sering disebut telebug atau tolombong yang artinya keranjang besar.

KALAKAY JASINGA

SUMUR BEUNGBEK CIDURIAN

HALODO PANJANG JEUNG HESE CAI




Sudah lebih dari 3 minggu tidak turun hujan. Berita kekeringan di seluruh daerah Indonesia muncul di tv dan media sosial. Pemerintah berupaya keras dalam menanggulangi kekeringan ini. Bukan hanya itu saja, kebakaran hutan pun menjadi sangat mudah di musim kemarau ini. Semua warga masyarakat kesulitan memperoleh air bersih, karena sumur di rumah mereka telah mengering.

Musim kemarau panjang bukan hal yang aneh sebetulnya bagi masyarakat Jasinga dan sekitarnya. Musim ini memang sejak dahulu kala setiap tahunnya dialami oleh warga selama 6 bulan lamanya. Perbedaannya adalah pada saat ini sungai dan sumur warga lebih cepat surut dibandingkan dengan yang lalu. Belum satu bulan tidak turun hujan, sungai dan sumur menyusut cepat.


Usim halodo dalam bahasa warga sekitar, biasanya juga adanya sedikit perubahan dalam memenuhi kebutuhan air. Seperti contoh disetiap pagi dan sore di sungai Cidurian akan dibanjiri oleh warga baik yang berada disekitar sungai maupun warga yang jauh. Karena sumur-sumur yang berada di rumah masing-masih sudah ada yang kering. Mereka dalam memenuhi kebutuhan air akan selalu beraktifitas di sungai untuk kebutuhan air. 


Aktifitas-aktifitas ini seperti MCK (mandi, cuci, dan kakus), dan kebutuhan stok air bersih. Bagi warga yang cukup jauh, Mereka akan berbondong-bondong ke sungai Cidurian untuk mengambil air dan menyimpannya dirumah. Stok air ini berguna untuk kebutuhan mereka dalam jangka waktu beberapa hari saja, seperti cuci piring, air minum dan lainnya. Sedangkan untuk mandi dan cuci pakaian aktifitas akan selalu di sungai. 

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat Jasinga dan sekitarnya memiliki kebiasaan membuat sumur. Sumur ini dinamakan dengan sumur beungbek. Sumur beungbek ini dibuat di sekitar sungai yang permukaannya sudah tidak dialiri air. Sumur digali di bebatuan dan berpasir baik ditepi maupun di badan sungai. Pembuatan sumur beungbek ini digali dengan kedalaman kurang lebih 50 cm dan diameter kira kira sekitar satu meter. Kegunaan sumur ini adalah untuk memperoleh air bersih dari resapan pasir dan batuan secara langsung dari air sungai yang mengalir di dekatnya. Sumur ini diandalkan oleh warga saat "halodo panjang jeung hese cai" atau dalam bahasa indonesia adalah saat musim kemarau dan susah air. 


KALAKAY JASINGA

IKAN DARI CIDURIAN

IKAN REGIS DARI CIDURIAN



Sudah beberapa hari ini tidak turun hujan. Sepertinya saat ini adalah musim kemarau, walau pun sistem musim sekarang tidak seteratur musim di tahun 90-an. Dua musim pada saat itu, dimulai dari Bulan Maret sampai Agustus adalah musim kemarau. Bulan Maret yang diakhiri dengan huruf "t", masyarakat dulu menganalogikannya dengan "raat" atau "saat" (sama-sama berakhiran huruf t) yang dalam bahasa indonesia berarti reda atau berhenti hujan. Mulai dari September sampai Agustus adalah musim hujan. Bulan September dengan akhiran "ber" kalau masyarakat dulu menganalogikan dengan pertanda hujan yang dalam bahasa Indonesia "ber" berarti turun hujan.

Datangnya musim kemarau, sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jasinga untuk mencari ikan, terutama ikan regis atau genggehek (Mystacholeucus Marginatus). Walau pun bukan hanya musim kemarau saja, akan tetapi ikan regis ini lebih mudah didapat pada saat musim kemarau karena mereka hidup di aliran sungai yang dangkal. Ikan ini akan mudah terlihat karena kilauan sisiknya yang terkena sinar matahari. 

Ikan regis adalah sejenis ikan air tawar yang terdapat banyak sekali di Cidurian dan sungai-sungai lainnya di Jawa Barat. Ukuran ikan ini yang paling besar menurut pengalaman masyarakat adalah sebesar 3 ramo (jari) orang dewasa. Di Cidurian masyarakat mendapatkan ikan ini dengan cara nguseup (memancing) dan ngaheurap (menjala). Ikan ini adalah ikan yang umum didapat oleh masyarakat dan juga menjadi ikan yang digemari karena rasanya yang enak.

Untuk mengolah ikan regis masyarakat Jasinga biasanya di goreng garing, di pais atau bisa juga di cobek. Konon katanya ikan regis ini sangat berkhasiat sekali bagi ibu-ibu yang sedang menyusui agar produksi ASI meningkat. Namun, alangkah disayangkan saat ini untuk mendapatkan ikan regis tidak sebanyak dahulu kala. Kualitas air yang banyak sampah dan debit air yang semakin menurun sangatlah mempengaruhi keberlangsungan habitat ikan ini. Dan yang paling disayangkan adalah adanya sebagian warga menggunakan obat-obatan yang berbahaya bagi lingkungan untuk mendapatkan hasil yang instan. Seperti contoh di sangkaling, di kocok, di bilet dan lain sebagainya menurut bahasa setempat. 

KALAKAY JASINGA
Foto ilustrasi oleh Ayus

BATU ARCA RIWAYAT MU KINI

ASA GEUS LILA JASA TEU APRAK-APRAKAN DEUI .. 

Pada tahun 2008 masyarakat Jasinga dan sekitarnya digegerkan oleh batu peninggalan zaman purbakala yang berbentuk seperti kura-kura. Batu ini bukan batu biasa, karena ukurannya yang sangat besar seberat 6 ton. 

Mereka masyarakat Jasinga menyebutnya batu kuya (sunda), seiring berita media masa mengabarkan hilangnya batu yang memiliki diameter 3 meter dan tinggi sekitar 4 meter. 

Seingat kami saat itu adalah di bulan Ramadhan ketika masyarakat menjalankan ibadah puasa, sehingga bagi kami bila bulan Ramadhan tiba, kami teringat kembali dengan Batu Kuya tersebut. Seperti saat ini puasa Ramadhan 1440 H. Bedanya, cuaca puasa saat itu sedang musim panas, atau dalam bahasa sundanya "usim halodo" sedangkan sekarang antara sore dan malam selalu diguyur hujan. 



Pada Tahun 2009, Kalakay Jasinga beberapa kali berkunjung ke Kasepuhan Adat Sihuut Cigudeg dan Cipatat Kolot. Sangat menarik sekali bagi kami hingga pada saat itu kami sering memperbincangkannya disetiap sua. 

Sehingga pada puncaknya kami menghadiri sebuah acara adat yaitu Upacara Adat Ziarah Salembur. Ziarah Salembur merupakan prosesi ritual adat yang diadakan setiap tahun setelah hari raya Idul Fitri. Kami teringat dengan ucapan Abah Sahim. 

"Hiji deui Batu Kuya aya di Sajira duka mun di Sajira bakal leungit deui, bakal kumaha?" 

Pada Tahun 2011, expedisi Kalakay Jasinga ke batu Arca Cigudeg. Batu ini berada di Kampung Dukuh Cigudeg. Dengan melewati jalur Lawang Taji ke arah Lembur Prayoga kami dengan penuh semangat disajikan dengan pemandangan luar biasa indahnya sebuah pedesaan dan perbukitan. 

Disini kami bisa melihat Gunung Pangradin dari jauh dari arah utara pangradin. Jalan menanjak lembur Prayoga lalu melewati ladang-ladang warga. Setelah itu kami memasuki sebuah kampung. Ketika kami memasuki kampung tersebut, kami tidak menemukan satu orang pun, bahkan rumah-rumah layaknya sebuah kampung. 

Lalu kami pun bertanya-tanya dalam hati, dimanakan kampung itu? Kebetulan ada seorang warga yang lewat kami pun menanyakan kepadanya. Ternyata kampung tersebut adalah sebuah kampung yang sudah tidak berpenghuni, semua warga pindah ke lokasi sebrang, katanya. 

Kami pun meneruskan perjalanan, ke arah kampung tersebut. Hanya beberapa pondasi tua dan beberapa bekas berpenghuni sisa-sisa dari peradaban kecil dimana pasti ada cerita-cerita waktu itu. Entah itu cerita masa kecil, cerita masa duka ataupun cerita masa suka warga tersebut. 



Tak jauh setelah melewati sepetak ladang singkong, kami menemukan rumah reot dan tua. kami pun penasaran mendekati rumah siapakah gerangan?

Setelah mengucapkan salam kepada rumah tersebut, keluarlah seorang kakek tua. Beliau sangat ramah sekali, seolah-olah seorang kekek yang ketemu cucu kesayangannya. 

Dengan sebuah tongkat Aki Niman berjalan keluar dan duduk di kursi besi tua di depan rumah. Kami pun berbincang-bincang dengan beliau dan menanyakan lokasi batu arca yang berada di lokasi ini. Saat itu kami sebenarnya sudah putus asa mencari lokasi batu arca karena waktu sudah akan gelap. 


Setelah Aki Niman menjelaskan kepada kami lokasi batu arca yang sedang kami cari, kami pun sesegera mungkin ke lokasi tujuan. Batu Arca ini adalah sebuah batu kali yang memiliki panjang sekitar dua meter berbentuk seperti wanita yang berdiri dan tangan berdekap. Posisi terbaring miring. 

Menurut Aki Niman, batu arca ini dulu posisinya berdiri, dikarenakan patah, kini posisi batu tersebut terbaring miring. 

Cerita tentang batu ini pun diutarakan oleh Aki Niman, terutama tentang orang-orang yang melakukan kunjungan ke batu arca ini. 

Tiba dilokasi, kami memandang sekitar lokasi. Lembah ini dialiri oleh sebuah sungai kecil yang jernih. Batu itu berada di tengah sungai dan terbaring miring, berada dibalik sebuah batu besar. 

Jika dilihat sepintas, batu ini tidak akan terlihat. Kami harus menaiki batu besar itu terlebih dahulu. Kami membayangkan peradaban masa lalu disini mungkin, mungkin seperti sebuah taman dan tempat peribadatan. 

Dan saat ini, di bulan puasa Ramadhan 1440 H ini, kami teringat dengan perkataan Aki Niman mungkin Batu Arca itu sekarang sudah hilang. 

Wallahualam ...


KALAKAY JASINGA


SI PECAK JEUNG SI BURVT


Tradisi Caritaan Barudak Jasinga yang diceritakan kepada anak-anak oleh orang dewasa, yang dilaksanakan pada malam hari ketika berkumpul di pelataran rumah atau tempat-tempat ronda. 


Caritaan ini kebanyakan bersifat jenaka. Penyajian sengaja dengan bahasa aslinya agar arti dan makna nya tidak berubah.


SI PECAK JEUNG SI BURVT

Sore-sore Si Burvt ulin ka imahna Si Pecak


Si Burvt   : "Pecaak". Ngagero di hareup imah

Si Pecak  : "Uuuuy, aing dijerooo". Pecak ngabales

Si Burvt   : "Heh Pecak, urang ka sawah yuk, ngala kalapa !". Burvt ngajakan

Si Pecak  : "Mbunglah, geus rek magrib Rut".

Si Burvt   : "Alah maneh Cak, mani kugaya! Maneh mah rek beurang tau peuting ge tetep peuting. Kajenlah Cak nke jeung maneh dua siki aing mah hiji be. Jeung deui maneh ges lila tara nginum cai kalapa deui". Si Burvt ngoloan Si Pecak.

Si Pecak : "Bener oge nyah, hayu atuh". Ceuk Si Pecak bari jeung siap siap mangkat


Si Pecak jeung Si Burvt barangkat ka sawah. Si Burvt dihareupeun, Si Pecak di tukangeun Si Burvt.


Si Pecak  : "Geura naek Rut, Aing geus aus yeuh". Ceuk Si Pecak

Si Burvt   : "Cak, pan aing mah teu bisa naek tangkal kalapa". Si Burvt karak engeuh manehna teu bisa naek kalapa

Si Pecak  : "Nggeus geura naek bae, kos monyet". Si Pecak nitahan ka Si Burvt bari ngelusan tikorona

Si Burvt   : "Heu geh aing nyobaan lah". Bari ngalipetkeun sarungna jeung ngabayangkeun monyet keur naek kalapa


Akhirna Si Burvt naek, tapi kunaon tisaprak eta, Si Burvt eweuh soraan, najan digeuroan ge ku Si Pecak. Si Pecak panasaran ko Si Burvt digeroan titadi teu nyahut-nyahut. 

Kusabab Si Pecak ges teukuat auseun, manehna naek oge kana tangkal kalapa nu ditaekan ku Si Burvt. 

Lalahunan Si Pecak naekna, bari leungeuna ngarabaan luhureun sirahna ges nepi apa ncan. Pas rada luhur, lengeun Si Pecak akhirna ngageurewek eta kalapa. 


"Benang sia ku aing". Ceuk Si Pecak bungah
Teu lila Si Pecak ngomong deui ...

"Ieu kalapana ko bie nyah?". Ceuk Si Pecak bari panasaran


Teu lila kaluar cai dina eta kalapa ... diasaan ku Si Pecak


"Cai kalapa ko kieu amat?", kusabab Si Pecak geus lila tara nginum cai kalapa, poho deui kana rasana. 

"Wah cengkir ieu mah kalapana". Si Pecak ngomong sorangan


Teu lila eta kalapa di dudut ku Si Pecak, dipulintirkeun hela eta kalapa mbeh gampang didudutna. 

Geus kitu, pas didudut aya suara ngagoak, nyaeta suara Si Burvt. Tapi eta kalapa kaburu kagol kadudut ku Si Pecak. 

Terus Si Burvt ragag, lengeun Si Burvt nyeukelan ka lengeun Si Pecak. Ju be duanana ragag ...

GUBRAGGGGGGG !

"Adawwww ...". Si Burvt jeung Si Pecak ngagoak

Si Burvt  : "Pecak sia mah kabina-bina eta aing di krewek ku sia". Si Burvt ngambek

Si Pecak : "Aing teu nyaho eta sia, ja eweh soraan, atu sia cicing bae ku aing digeroan geh".

Si Burvt  : "Aing sieun pas diluhur, inggis Cak, aing pereum be di luhur. Aing teu nyaho sia horeng miluan nerekel naek. terus aing kiih ja sieun ges diluhur teubisa kahandap dei.

Terus si pecak buru-buru lumpat ka cai kusabab awakna baseuh ku kiih si burvt.

Selesai.




Kalakay Jasinga

KAULINAN BARUDAK JASINGA ( PERMAINAN ANAK-ANAK )

Di jaman teknologi saat ini Kaulinan Barudak  atau permainan anak-anak sedikit sekali ditemukan. Anak-anak lebih menggemari permainan gadget seperti game, game online atau media sosial, yang dikhawatirkan adalah anak-anak akan menjadi pribadi yang antisosial atau lebih mementingkan sifat individu. 

Hal positif yang didapat dari beberapa permainan tradisional adalah mengasah otak, melatih ketangkasan, kekompakan, sportifitas dan tentu saja hidup bersosial , secara keseluruhan mempunyai sifat kreatif dan edukatif.

Berikut adalah beberapa  jenis Kaulinan Barudak  di Jasinga  20 hingga 30 tahun yang lalu masih dimainkan oleh Barudak Jasinga.


No
PERMAINAN
JENIS
SIFAT
SARANA
LOKASI
WAKTU
1.
Pande
 Ketangkasan
Perorangan
Batu  pipih
Halaman
Pagi  s.d Sore
2.
Galah
Ketangkasan
Beregu / Kelompok
Lapangan
Lapangan Badminton
Pagi  s.d Sore
3.
Ucing Boy
Ketangkasan
Beregu / Kelompok
Batu,  pecahan genteng
Halaman luas
Pagi  s.d Sore
4.
Baren / Ucing Baron
Ketangkasan
Beregu / Kelompok
Anak-anak
Halaman luas
Pagi  s.d Sore
5.
Ucing Sumput
Permainan
Kumpulan anak-anak
Anak-anak
Pekarangan
Malam
6.
Panggal
Ketrampilan
Perorangan
Panggal (gasing)
Halaman
Pagi  s.d Sore
7.
Yeye
Ketangkasan
Perorangan
Tali karet
Halaman
Pagi  s.d Sore
8.
Langlayangan
Ketrampilan
Perorangan
Layangan
Lapangan
Siang s.d Sore
9.
Bebeletokan
Permainan
Kelompok / Perorangan
Bambu
Pekarangan/kebun
Pagi  s.d Sore
10.
Kaleci
Permainan
Perorangan
Kelereng/gundu
Halaman
Pagi  s.d Sore
11.
Atak-atakan
Permainan
Perorangan
Mobil-mobilan kayu
Jalan
Pagi  s.d Sore
12.
Sondah
Ketangkasan
Perorangan
Pecahan Genteng
Halaman
Pagi  s.d Sore
13.
Lalayaran / Papalidan
Ketangkasan
Perorangan
Ban dalam mobil, Batang pisang
Sungai
Sore
14.
Egrang
Ketrampilan/ Ketangkasan
Perorangan
Bambu Egrang
Halaman, Jalan
Pagi  s.d Sore
15.
Hahayaman
Permainan
Perorangan
Bunga alang-alang, karet , paku
Halaman
Pagi  s.d Sore
16.
Bentaran
Permainan
Perorangan
Jari tangan
Halaman, Rumah
Pagi  s.d Sore
17.
Gatrik
Ketangkasan
Beregu/kelompok
Kayu /bambu
Halaman
Pagi  s.d Sore
18.
Gambar Centang
Permainan
Perorangan
Gambar mainan
Rumah
Pagi  s.d Sore
19.
Oray-orayan
Permainan
Kelompok
Anak-anak
Halaman
Pagi  s.d Malam
20.
Jejebludan / Beleson
Permainan
Perorangan
Bambu besar, minyak tanah
Halaman, lapangan
Pagi  s.d Sore
21.
Bekles / Bekel
Permainan, Ketrampilan
Perorangan
Bola karet, kerang
Rumah
Pagi  s.d Sore
22.
Bekles Batu
Permainan, Ketrampilan
Perorangan
Batu kerikil
Rumah
Pagi  s.d Sore
23.
Damdas
Permainan strategi
Perorangan
Batu, kapur tulis
Rumah
Pagi  s.d Sore
24.
Peperangan
Ketangkasan
Kelompok
Bedil mainan
Pekarangan
Pagi  s.d Sore
25.
Sumplit
Permainan
Kelompok
Bambu kecil
Halaman, pekarangan
Pagi  s.d Sore
26.
Ucing Dongko
Permainan
Kelompok
Anak-anak
Halaman
Pagi  s.d  Malam
27.
Depak
Ketangkasan
Perorangan
Batu
Halaman
Pagi  s.d Sore
28.
Ucing Hong
Permainan
Kelompok
Anak-anak
Halaman
Pagi  s.d  Malam
29.
Hahayaman
Permainan
Perorangan
Ibu jari
Rumah
Pagi  s.d  Malam
30.
Ngadu Siki Karet
Permainan
Perorangan
Biji Karet
Halaman
Pagi  s.d Sore
31.
Ngadu Daun
Permainan
Perorangan
Daun
Halaman
Pagi  s.d Sore
32.
Ngadu Banting
Permainan
Perorangan
Benang Layangan, Batu
Halaman
Pagi  s.d Sore
33.
Ban –banan
Ketangkasan
Perorangan
Ban motor bekas
Jalan
Pagi  s.d Sore
34.
Perepet Jengkol
Permainan
Kelompok
Anak-anak
Halaman
Pagi  s.d Sore
35.
Cingciripit
Permainan
Kelompok
Anak-anak
Halaman
Pagi  s.d Malam
36.
Maen Batok
Ketangkasan
Perorangan
Batok Kelapa/ Tali
Halaman
Pagi  s.d Sore
37.
Balon Sarung
Permainan
Perorangan
Sarung
Sungai
Pagi  s.d Sore



Demikian beberapa jenis Kaulinan Barudak yang  membuat kita sejenak bernostalgia di masa kecil dan alangkah lebih baiknya jika permainan ini dikenalkan kepada anak-anak generasi saat ini dan yang terpenting adalah membuat mereka ceria, tangkas  dan dapat memaknai kebersamaan.



 Oleh : Kalakay Jasinga