Sunday, November 23, 2008

PEUCANG (SAMPEU KACANG)

PEUCANG (SAMPEU KACANG)


Bahannya :
- Singkong (Sunda : Sampeu)
- Kelapa yang sudah diparut
- Kacang tanah
- Garam secukupnya.
- Daun pisang digunting/dipotong dan dibentuk persegi


Cara membuat :
1. Cuci bersih kacang tanah dan tiriskan.
2. Singkong yang sudah dibuang kulitnya, dicuci dengan air bersih kemudian diparut semua dan dimasukan ke dalam wadah/tempat untuk membuat adonan. Kemudian masukan kelapa yang sudah diparut, kacang tanah dan garam secukupnya.
3. Aduk hingga merata menjadi adonan.
4. Siapkan daun pisang yang sudah dipotong/dibentuk persegi untuk membungkus adonan tadi.
5. Masukkan adonan sedikit demi sedikit (seperti membuat buras atau lontong).
6. Masukkan adonan yang telah dibungkus ke dalam kukusan satu persatu.
7. Kukusan dipanaskan selama + 1 ½ jam.
8. Setelah tercium wangi dari kukusan, adonan yang telah matang tersebut diangkat lalu ditiriskan.
9. Peucang (Sampeu Kacang) siap disajikan sebagai teman minum kopi atau teh manis.




PENCAK SILAT PUTRA PAJAJARAN JASINGA

PENCAK SILAT PUTRA PAJAJARAN JASINGA


Berkedudukan di Desa Bagoang Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor. Dewan Guru Pencak Silat Putra Pajajaran Jasinga adalah Bpk. Ukay dan dibantu oleh Bpk. Jahroni, Bapak Odih, dll. Aliran Pencak Silat ini diantaranya : Cimande, Sera (Aliran silat asli dari Jasinga Kab. Bogor), Cikalong, Depokan dan Beksi.

Pencak Silat Putra Pajajaran ini banyak melahirkan murid-murid yang sudah membuka cabang perguruan di berbagai negara, diantaranya : Amerika Serikat dan Belanda. Salah satu murid Bpk. Ukay di Jasinga yang sering memperagakan Aliran Pencak Silat Sera adalah Bpk. Odih yang notebene masih kerabat dekat Bpk. Ukay. Gerakan-gerakan silat Sera ini terbilang unik.

Saat ini, Pencak Silat Putra Pajajaran Jasinga sering ditampilkan pada acara-acara pernikahan, khitanan, pagelaran seni di daerah lingkungan Kecamatan Jasinga, serta terkadang diundang ke daerah luar Kecamatan Jasinga.

Pencak Silat Putra Pajajaran Jasinga membuka diri kepada siapa saja yang ingin belajar seni tersebut.

Pada era globalisasi ini, minat dan kepedulian masyarakat terhadap seni Pencak Silat Putra Pajajaran ini begitu minim, sehingga membutuhkan perhatian yang lebih dari berbagai pihak untuk melestarikan seni budaya tradisional yang sungguh tak ternilai harganya sebagai warisan untuk anak cucu kita dimasa yang akan datang

Jasinga, 1 Mei 2008

Andri Mirwan Fachri
(Kalakay Jasinga)




MAKAM TUA JASINGA

MAKAM TUA JASINGA

Kompleks makam tua di Jasinga tersebar di beberapa titik di sepanjang alur sungai Cidurian yang berada pada sebuah bukit, persawahan dan dekat dengan pemukiman warga. Makam-makam itu dibiarkan secara alami oleh masyarakat sekitarnya dari generasi ke generasi. Hingga kini ada beberapa yang sudah tidak utuh lagi dan tertimbun karena adanya faktor lingkungan dan adanya campur tangan manusia.

Makam yang berupa nisan ini jumlahnya mencapai puluhan bahkan ratusan pada tiap komplek tetapi yang terlihat kurang dari itu. Kondisinya banyak yang memperihatinkan seperti di kompleks makam tua Parahiang yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari Cidurian sebagian lahannya dijadikan masyarakat sebagai kebun dan lahan pertanian. Ada pula Kompleks makam Cidangiang yang jaraknya sekitar 70 meter dari Cidurian pada bagian kaki bukitnya dijadikan jalan perkebunan yang menghubungkan antar kampung. Yang sangat disayangkan lagi kompleks makam Janglapa di tepi sungai Cidurian, makam ini dengan sengaja nisan-nisannya dicabut bahkan dihancurkan karena ada perbedaan paham dan hak kepemilikan. Fenomena seperti itu dikarenakan kurangnya masyarakat mengerti tentang khasanah kepurbakalaan atau ada kepentingan tertentu padahal makam tersebut usianya mencapai ratusan tahun.

Bentuk makam tua di Jasinga banyak perbedaan dengan makam-makam tua di daerah lainnya karena disini mempunyai keunikan dan bentuk yang khas. Walaupun jenisnya beragam, pada umumnya nisan di sini berbentuk gada dan pipih pada tiap kompleks dengan ukuran tinggi mulai dari 30 cm hingga 80 cm. Yang sangat menarik adalah nisan ini dihiasi motif hias geometris (kebanyakan bermotif stilasi daun) dengan ukiran khas yang menonjol(relief). Terkecuali kompleks makan Curug dan Janglapa yang bernisan pipih dan dengan corak yang khas pula.


Bentuk nisan gada sangat bervariasi dan terbagi menjadi beberapa tipe. Tipe gada dengan bentuk badan segi delapan dan badan melebar ke atas bermahkota tumpuk dan bulat. Ada pula yang berbentuk polos dan tanpa mahkota. Bentuk nisan pipih sama seperti nasan-nisan pada umumnya tetapi hanya tipe saja yang berbeda seperti bentuk kipas, bagian sisi badan bergelombang dan bentuk bagian nepala bergelombang dan ada pula bentuk pipih dengan sisi patah-patah. Sebagian nisan berbentuk gada dan pipih terukir identitas dengan huruf arab pegon. Sebagai contoh nisan yang masih terbaca pada kompleks makam tua gunung Kulantung,di situ tertulis nama ,hari,tanggal dan bulan serta tahun. Begiru juga di ko,pleks Makam Pagutan yang berada pertemuan dua sungai Cidurian dan Cikeam,di situ tertulis ukiran yang sama seperti di Kompleks Gunung Kulantung. Ada keunikan pada angka tahun yaitu menggunakan angka arab dan angka latin. Bila kita baca angka-angka tersebut menunjukkan tahun 1800-an.Mungkin saja bentuk-bentuk nisan yang berukuran besar dan tidak beridentitas juga lebih tua usianya. Ini membuktikan bahwa nisan-nisan tersebut peninggalan masa peradaban islam. Selain bentuk nisan,bentuk jirat berupa lempeng balok batu yang terukir hiasan yang khas. Pada ujung bagian selatan berbentuk segi tiga dan setengah bulat patah,karena nisan hanya berada pada jirat bagian utara saja.

Tak banyak masyarakat yang mengetahui asal mula kronologis nisan-nisan tua,tapi yang dipahami masyarakat saat ini hanyalah dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik dan klenik,keramat serta keangkerannya. Namun ada beberapa tokoh dalam kompleks makam yang diyakini sebagai leluhur misalnya saja Ki Wirasinga, Buyut Surabayah, Syeh Sohib, Buyut Jakaria, Buyut Mas Jabeng dan Tubagus Buang. Pada umumnya asal usul sejarah mereka simpang siur dan berbeda versi. Hingga saat ini tempat tokoh-tokoh tersebut masih didatangi peziarah.

Sekilas nisan-nisan tua ini sangat menarik perhatian karena memiliki nilai seni pada coraknya dan bermakna bila dapat “dibaca” di dalamnya. Ada baiknya nisan-nisan tua pada tiap kompleks ini dijaga dan dilestarikan keberadaannya karena dapat memperkaya warisan leluhur. Adapun kompleks makam tua ini adalah salah satu indikasi adanya pemukiman di masa lalu. Jika kita mempunyai keinginan untuk meneliti nisan-nisan tua ini, jangan menganggap bahwa kompleks makam tua sebagai sesuatu yang angker dan tempat hantu bergentayangan.

Kalakay Jasinga September 2008
http://kalakayjasinga.blogspot.com


FOTO MAKAM-MAKAM JASINGA









BATU LAWANG

LAWANG TAJI

Lawang taji merupakan salah satu tempat yang penting bagi para petarung sabung ayam, kerena di kampung tersebut terdapat sebuah batu yang dipercaya akan mendatangkan kekuatan bagi ayam petarungnya. Batu tersebut berlokasi di sebuah kebun warga yang letaknya dikelilingi sawah dan dekat dengan sungai cidurian, tidak jauh dari pemukiman warga. Bentangan alam persawahan dan perbukitan yang subur menjadikan areal ini sebagai aktifitas sehari-hari pertanian warga.

Jalan menuju Batu Lawang kurang lebih 700 meter dari jalan raya Jasinga, melewati jalan perkampungan dan setelah itu melintasi pematang sawah. Setelah itu kita akan sampai pada sebuah lereng bukit dan di situlah letak Batu Lawang berada. Adapun batu itu berukuran dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter berbentuk oval. Menurut salah satu sepuh setempat yang bernama Abah Arsid (75), dahulu di bawah batu itu keluar mata air yang mengalir kearah pohon bambu tamiang yang berada di bawahnya. Di situlah dijadikan tempat memandikan ayam jantan yang dipercaya akan membawa kekuatan dalam arena sabung ayam dengan mengasah paruh dan taji ayam jantan pada bambu tamiang tersebut. Sampai saat ini kepercayaan seperi itu masih diyakini bahkan banyak orang datang dari berbagai tempat untuk melakukan ritual ini. Menurut kesaksian warga banyak orang-orang datang dari Bandung dan Jakarta yang sengaja memandikan ayam petarungnya untuk diadukan dalam arena sabung ayam. Abah Arsid yang sebagai kuncen batu lawang ini juga menceritakan bahwa pada tahun 1942 ditemukan sebuah kantong kain berisi beberapa pistol,peluru,dan sejumlah batu akik.

Kalakay Jasinga, Agustus 2008



Dari Parung Panjang sampai Sukajaya dari Ciampea hingga Jasinga

Dari Parung Panjang sampai Sukajaya dari Ciampea hingga Jasinga

Bentangan yang teramat luas
Tataplah dengan mata telanjang bentangan areal tersebut, sejauh mata memandang yang tampak hanyalah rimbun dan hijaunya hamparan perkebunan sawit
Tak ada hutan yang bertahan
Bebukitanpun tak kenal ampun
Babat habis untuk sawit
Kita hidup di jaman merdeka bukan jaman Belanda
Tapi apa bedanya?
Perkebunan dulu milik Belanda
Pantas jika hasilnya dibawa ke sana
Sekarang perkebunan milik siapa?
Kemana hasilnya dibawa?
Ada siluman raksasa yang tak kelihatan batang hidungnya
Menjajah tanah menggergoti unsur hara meninabobokan kita semua
Tanah yang dipakai perkebunan bukanlah milik Belanda
Tapi mereka merebutnya dari kakek buyut kita
Mengapa setelah merdeka kita terperosok ke dalam lubang yang sama
Terjajah oleh ketidakpedulian
Ketidaktahuan akan hak sebagai warga negara
Coba hitung berapa rupiah dihasilkan satu pohon sawit
Sementara ada jutaan pohon tertanam
Sawit ibarat gajah di pelupuk mata yang tak tampak keberadaanya dan orang berburu semut di seberang lautan untuk penghidupannya
Bukannya memberdayakan, Siluman itu telah memperdaya kita dengan tak secuilpun kabar berita

Virus monolog telah begitu akut disini, segalanya berusaha ditimbun, fises sekalipun! Doa konstipasi mereka mohonkan setiap malam agar perut mereka terjaga dari berbagi, Tuhanpun tidak tuli dicukupkannya selalu rizki mereka hingga tambah kaya semakin kaya, ketika muntaber, busung lapar melanda tetangganya politik pintu tertutupun diterapkan dengan dalih agar tak tertular. Mereka lupa telah dicukupkan rizkiNYA, sarkasme yang sesungguhnya segenap rizkinya mereka kontribusikan untuk bersekutu dengan syetan keegoisan dan kekikiran
Dialog adalah vaksin yang langka dan hanya bisa diperoleh di klinik-klinik dokter atau disembunyikan dikulkas-kulkas kecil di puskesmas, terlalu banyak alasan untuk berdialog, karena disana ada banyak pertanggungjawaban khususnya bagi amtenar-amtenar atau yang merasa sejenisnya,



Agustus 2008,
Kalakay Jasinga



CERITA RAKYAT JASINGA VERSI 2

CERITA RAKYAT JASINGA VERSI 2


Dahulu Jasinga adalah sebuah negeri kecil yang ada di tatar sunda. Pada suatu masa diundang untuk mengikuti sayembara tahunan lomba ngadu munding (adu kerbau) dari sebuah kerajaan di negeri Palembang. Konon kerbau Palembang tak pernah terkalahkan di setiap lomba adu kerbau karena tegap kokoh dan kuatnya kerbau Palembang tersebut. Dalam lomba itu dipertaruhkan sebidang tanah di negeri Palembang sebagai hadiah pemenang lomba tersebut.
Karena mendapat undangan adalah suatu kehormatan bagi sebuah kerajaan , maka diutuslah tiga orang bersaudara putra Jasinga yaitu Jayalaksana, Jayaseta dan Jayawangsa. Dari ketiga bersaudara itu Jayalaksana sebagai saudara tertua mempunyai kemampuan kedigjayaan atau ilmu kanuragan yang tinggi, Jayaseta sebagai saudara kedua mempunyai kepandaian berdiplomatis serta mempunyai pesona ketampanan dan tubuh yang ideal. Jayawangsa sebagai saudara bungsu tidak mempunyai kemampuan yang begitu tinggi.
Setelah mendapat restu dari penguasa Jasinga maka berangkatlah ketiga bersaudara tersebut menuju negeri Palembang untuk bertanding. Mereka pergi tidak membawa bekal apapun hanya restu yang mereka bawa. Mereka melewati hutan dan menyebrang lautan dengan berjalan kaki. Setibanya di gapura perbatasan negeri Palembang, ketiga putra Jasinga itu pun berhenti untuk mengatur rencana perlombaan. Jayalaksana sebagai kakak tertua membagi tugas kepada kedua adiknya. Jayalaksana berperan sebagai penggembala kerbau, Jayaseta sebagai duta kerajaan dan Jayawangsa diubah wujudnya menjadi seekor kerbau yang bertanduk tiga mirip trisula.
Konon perlombaan itu diikuti oleh berbagai kerajaan dari pelosok negeri setiap tahunnya. Dari setiap perlombaan yang diadakan tak ada satu pun yang mampu mengalahkan kerbau Palembang. Raja Palembang memulai acaranya dan peserta dari kerajaan berbagai negeri dipersilahkan untuk mempersiapkan kerbaunya masing-masing. Acara pun dimulai dan kerbau dari masing-masing kerajaan tak mampu mengalahkan kerbau tuan rumah, yang ternyata kerbau dari kerajaan Palembang berukuran seperti gajah. Hingga pada saatnya giliran terakhir tertuju pada kerbau dari negeri Jasinga. Sangat jelas perbedaan ukuran antara kerbau negeri Jasinga dan Palembang tetapi hal itu tidak mengurungkan niat putra Jasinga untuk mempertarungkan kerbaunya.

Pertarungan kerbau Jasinga dan Palembang dimulai dan kerbau Palembang yang berukuran besar berusaha untuk menanduk. Setiap kali diserang, kerbau Jasinga selalu menghindar dan hingga pada suatu kesempatan kerbau Jasinga menyelinap ke bawah kerbau Palembang dan menanduk alat vital kerbau Palembang. Tandukan itu langsung merobek bagian bawah perut dan seketika itu kerbau Palembang roboh. Kerbau Jasinga berhasil memenangkan perlombaan dan raja Palembang memberikan hadiah sebidang tanah di wilayah negeri Palembang.
Setelah sebidang tanah dimiliki oleh ketiga putra Jasinga, mereka pun pulang kembali ke Jasinga. Setibanya di Jasinga ketiga bersaudara itu menempati daerah yang ada di Jasinga. Jayalaksana menetap di daerah Sipak, Jayaseta menetap di Jasinga dan Jayawangsa menetap di Ngasuh. Ketiganya menetap dan berkeluarga hingga akhir hayatnya. Jayawangsa terkenal dengan sebutan Mundinglaya yang berari kerbau yang telah mati.

Dari kisah cerita ini lahir beberapa mitos :
• Orang Jasinga bila berusaha dan berikhtiar di Palembang akan menjadi sukses, namun tidak terasa manfaatnya jika hartanya dibawa kembali ke Jasinga.
• Orang Jasinga tidak boleh menikah dengan orang Sipak (Jika ia perempuan), karena ia saudara tua. Terkecuali pihak perempuan dari Jasinga dan laki-laki dari Sipak.
• Makam Mundinglaya dijadikan tempat ziarah bagi pemilik kerbau aduan agar kuat dan menang dalam perlombaan.




Jasinga, September 2006
KALAKAY JASINGA



Thursday, November 20, 2008

CERITA RAKYAT JASINGA VERSI 1

CERITA RAKYAT JASINGA VERSI 1

Di kawasan bagian Barat Bogor, tepatnya di daerah Jasinga terdapat berbagai versi cerita rakyat yang menceritakan asal-usul nama daerah Jasinga. Hanya saja saat ini cerita tersebut tidak begitu populer kecuali orang tua atau sesepuh saja yang masih bisa menceritakannya. Keberadaan Jasinga tidak terlepas dari mitos seekor Singa dan dari berbagai versi Itulah masyarakat pun menceritakan tokoh-tokoh yang membabak Jasinga menjelma menjadi Singa.

Sekilas cerita rakyat Jasinga yang pada awalnya adalah sebuah pasir (bukit) yang bernama Bayah. Pasir Bayah dihuni oleh orang-orang Sunda Pajajaran. Disitulah mereka hidup karena sumber kehidupan sungai Cidurian berada di bawahnya. Konflik terjadi di daerah sekitar Pasir Bayah, antara Pasir Bayah dengan Mayak (suatu daerah di Barat Daya).

Konflik tak dapat dihindarkan, wangsa Mayak meminta bantuan kepada pimpinan Daerah Koleang untuk memerangi Wangsa Pasir Bayah. Peperangan terjadi di daerah Pangapakan, selama beberapa hari. Tiba-tiba datang 3 orang santri yang pada waktu itu, tidak seorang pun tahu dari mana mereka berasal. Mereka datang bermaksud hendak melerai konflik. Namun yang terjadi kemudian, mereka pun masuk ke Palagan.

Namun 3 santri tersebut malah menjadi bulan-bulanan oleh 2 wangsa yang berperang. Mereka pun mundur dari palagan, dan menghimpun kekuatan hingga 3 santri tersebut menjelma menjadi singa. Konflik tak dapat diredam dan akhirnya 3 santri ikut dalam peperangan di palangan, sehingga terjadilah perang segitiga.

Wangsa Pasir Bayah dan wangsa Mayak yang dibantu Wangsa Koleang tak sanggup melawan amukan singa. Karena sima dan amukan Singa, 2 wangsa keluar dari palagan. Wangsa Pasir Bayah meninggalkan Pasir Bayah kemudian mereka menetap di Pakidulan (pantai Selatan Banten), wangsa Mayak dan Koleang kembali ke tempat asalnya.

Di lahan sebelah barat pangapakan berjajar laskar-laskar pejuang yang gugur dari 2 wangsa, mayat-mayat laskar tersebut dibariskan seperti ikan Peda, maka daerah itu dinamakan Rancapeda. Darahnya pun mengalir seperti Curug (air terjun) hingga ke sungai Cidurian dan daerah tersebut dinamakan Leuwi Curug.

Singa berubah wujud kembali menjadi 3 orang santri, dan kemudian merekalah yang berkuasa walaupun pada awalnya mereka hanya bermaksud melerai dan meredam konflik 2 wangsa. Kemenangan singa diperingati bersamaan dengan pemberian nama gelar 3 orang santri karena telah jaya dalam perang dan daerah Bayah diberi nama Jasinga yang berasal dari jaya Singa yang berarti kemenangan Singa.
Gelar 3 santri itu adalah :
1. Munding Leuweung Jaganagara
2. Munding Laya Omas
3. Munding Laya Kusuma

Mereka berhak menempati daerah masing-masing yang ada di sekitar Jasinga dan merekapun bermusyawarah. Munding Leuweung Jaganagara bertanya kepada Munding Laya Kusuma dan Munding Laya Omas.

Munding Leuwung Jaganagara : “Sia rek kamana, Kusuma ?”
Munding Laya Kusuma : “Kami mah rek didieu bae, ja geus cukup loba sandang jeung pangan didieu mah, bisa ngumpulkeun suluh, pangan jeung lainna”.
Munding Laya Omas : “Kami rek leumpang ka beulah kulon, ngke kami rek diuk di kulon sampe ka boga katurunan.”
Munding Leuweung Jaganagara : “Geus… lamun kitu mah kahayangna, aing rek diuk di gunung curi. Aing anu ngasuh sia duaan jeung aing nu ngajagaanana”.

Mereka menempati daerah masing-masing, Munding Leuwung Jaganagara menempati daerah Gn. Curi (sekarang Kp. Ngasuh) dan dia yang mengontrol sekaligus membimbing Munding Laya Kusuma dan Munding Laya Omas. Munding Leuweung Kusuma menempati daerah sekitar Pasir Bayah yang cukup luas dan diberi nama Jasinga yang mengalir Sungai Cidurian. Sedangkan Munding Laya Omas berkelana ke Barat (sekarang Banten).

Begitulah cerita rakyat yang dituturkan oleh orang tua dan sesepuh Jasinga. Nama-nama daerah Mayak, Pasir Bayah, Rancapeda, Ngasuh hingga kini masih ada, hanya saja kini cerita tersebut tidak begitu populer akibat ditinggalkannya budaya tutur oleh sebagian masyarakat, kecuali mereka yang masih menyimpan cerita dan bisa menuturkan. Jika saja cerita rakyat berbagai versi dapat dituturkan kepada anak cucu, maka nama-nama daerah di Jasinga jadi sangat bermakna.


Disusun oleh :
WAWAN
Kalakay Jasinga, 2007



NYABA KA URANG SUNDA WIWITAN

Nyaba ka urang sunda wiwitan
“Ekspedisi Baduy I”


Sabtu, 21 Mei 2005, Pukul : 05.00 WIB.
Kami bangun dari tidur dan mandi di Cidurian. Sekitar jam 06.00 WIB. Kami berangkat dari Base Camp (Kost-nya Manteri Dalem/Wawan). Di terminal Jasinga kami menunggu mobil angkutan menuju terminal Gajrug Kab. Lebak Provinsi Banten. Cukup lama kami menunggu Angkutan Gajrug, hingga akhirnya pukul 07.00 WIB, kami baru berangkat. Pukul 08.15 WIB, kami sampai di terminal Gajrug. Kemudian kami menunggu angkutan Gajrug – Rangkasbitung. Tepat pada pukul 08.45 WIB kami berangkat menuju Rangkasbitung. Kami tiba di terminal Rangkasbitung pukul 10.00 WIB, sejenak kami istirahat untuk melepas lelah, kemudian makan siang. Jam 10.30 WIB kam melanjutkan perjalanan menuju terminal Ciboleger dengan angkutan Rangkasbitung – Ciboleger. Pukul 12.30 WIB, kami tiba di Ciboleger tepatnya di terminal Ciboleger. Di terminal tersebut terdapat patung orang Baduy (Bapak, Ibu, dan 2 orang anak), selanjutnya kami istirahat di sebuah Mesjid yang letaknya tidak jauh dari terminal tersebut.

Pukul 13.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Jaro Daina, di Desa Kadu Ketug. Jaro Daina adalah kepala desa yang memimpin beberapa desa di daerah Baduy Luar. Orang Baduy Luar memakai ikat kepala berwarna biru tua dan memakai ”Jamang” (baju berwarna hitam).

Setibanya di rumah Jaro Daina, kami disambut dengan ramah oleh tuan rumah, sambil beristirahat, kami menikmati segelas air putih dan gula merah pemberian Jaro Daina. Kami berbincang-bincang hangat dengan sang empunya rumah. Di rumah Jaro Daina terbentang kain panjang berwarna hitam bertuliskan kalimat : ”Gunung Ulah Dilebur Lebak Ulah Diruksak”.

Kami memperhatikan bentuk rumah Baduy Luar yang beratap “injuk”, berdinding anyaman bambu (bilik), bertiangkan kayu, sebagai penguat digunakan paku untuk menyambungkan kayu pada tiap-tiap bangunan. Pada rumah orang Baduy Luar dan orang Baduy Dalam terdapat daun “kawung” (Aren). Menurut kepercayaan yang mereka anut, daun “kawung” tersebut berguna untuk tolak bala (menolak segala marabahaya).

Di rumah Jaro Daina, kami menunggu Salman, menanantu Jaro Daina, yang merupakan sahabat yang cukup lama kami kenal. Tak lama kami berbincang, kemudian datanglah Salman, kami diajak ke rumah Salman, letaknya berbatasan dengan pemukiman/rumah orang luar. Lingkungan pemukiman Baduy Luar dengan pemukiman orang luar dibatasi dengan pohon “hanjuang”.

Di rumah Salman, kami dikenalkan kepada istrinya, Dalis, dan anak laki-laki yang bernama Dadiman (berusia 3 tahun). Dalis adalah putri dari Jaro Daina. Kami diberikan makan dengan nasi ketan merah dan ikan asin yang membuat makan siang begitu nikmat. Selesai makan siang, kami meminta izin kepada Jaro Daina untuk “ziarah” ke Puun Cibeo (Baduy Dalam), ditemani Salman sebagai Guide.

Ziarah, bagi masyarakat Baduy adalah silaturahim kepada sesepuh kaum adat, tidak seperti masyarakat kebanyakan, kata ziarah ditujukan kepada orang yang sudah meninggal.

Setelah mendapat izin, tepat pukul 14.00 WIB, kami berangkat menuju Cibeo.

Dalam perjalanan yang mendaki dan menurun melewati gunung-gunung, jurang dan lading (huma), akhirnya kami sampai di Desa Kaduketer. Desa Kaduketer masih tergolong masyarakat Baduy Luar. Di daerah ini tidak terdapat orang berjualan makanan dan minuman, untuk itu, kami mengambil air minum dari saluran kecil Cikaduketer untuk melepas dahaga. Airnya begitu jernih dan dingin, karena masih banyak pohon-pohon besar dan rindang.

Sesudah itu, kami langsung melakukan perjalanan, dalam perjalanan, Salman banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat Baduy. Di tengah perjalanan kami melihat sebuah danau besar yang disebut “Dangdang Ageung”. Menurut Salman, 2 tahun lalu, ada 2 muda-mudi meninggal di danau itu, orang Baduy sudah memperingatkan agar jangan berbuat atau bermain-main berlebihan, tetapi muda-mudi tersebut tidak menghiraukan peringatan tadi. Maka akhirnya terjadilah musibah itu. Mereka tenggelam setelah jatuh dari rakit yang mereka tumpangi. Kejadian itu terjadi kira-kira pukul 14.00 WIB. Jenazah keduanya baru ditemukan pada pukul 04.00 WIB.

Setelah melewati “Dangdang Ageung” kami bertemu 2 orang Baduy yang masih kecil, yang berjalan sambil meniup seruling, suaranya begitu indah sekali. Salman menyapa mereka dengan panggilan “Ongong” yang sama artinya dengan “Nak, Ujang, atau Asep” dalam bahasa Sunda. Kemudian kami bertemu dengan seorang pemuda yang berasal dari Papua, kami saling menegur sapa. Setelah itu, tibalah kami di Cibajra, disini kami mengisi perbekalan air minum, karena perbekalan air minum yang diisi dari Cikaduketer tadi telah habis kami minum.

Selama perjalanan kami terus mengobrol untuk menghilangkan lelah. Kemudian kami tiba di perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam, yang ditandai sebuah Pohon Besar. Di daerah inilah batas dimana orang yang ingin mengambil gambar, atau merekam video tidak diperbolehkan, karena sudah memasuki kawasan “Baduy Dalam”.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami menyempatkan diri singgah beristirahat di sebuah rumah yang berada di huma/ladang yang ditempati oleh sekeluarga orang Baduy Dalam. Keluarga tersebut memiliki anak-anak yang masih kecil. Kami meminta izin beristirahat sambil meminta air untuk melepas dahaga. Anak-anak itu begitu lucu, memakai ikat kepala putih, baju putih, memakai rok dan dipinggangnya terselip sebilah golok. Kami meminta air minum kepada “ambu” atau Ibu dalam bahasa keseharian kita. Ambu tersebut sangat ramah, sebagai balas budi kami memberikan roti kepada anak-anaknya.

Setelah istirahat sejenak, kami melakukan perjalanan lagi. Dalam perjalanan kami merasa terpesona dengan keindahan panorama alam Baduy.

Selang tidak lama dari meneruskan perjalanan tadi, kami berpapasan dengan seorang kakek tua dari Baduy Dalam. Beliau menyapa kami dengan ramah sekali.

Tak lama kemudian, sampailah kami di Jembatan “Rawayan”. Jembatan bambu yang diikat dengan tali dari injuk (aren) yang dibawahnya terdapat aliran sungai “CIPARAHYANG”.

Tepat pukul 17.15 WIB, sampailah kami di CIBEO. Selanjutnya kami menuju rumah Kang Mursid, putra dari Puun Jandol (Alm.). kami disambut dengan baik dan ramah oleh tuan rumah dan masyarakat lainnya. Kami memperkenalkan diri, lalu kami dipersilahkan masuk ke rumah Kang Mursid. Rumah-rumah di Cibeo beratap injuk, bilik bambu dan memakai tali injuk sebagai penguat.

Sambil melepas lelah, kami menikmati minuman dengan gelas dari bambu dan menikmati gula merah. Saat berbincang-bincang, ada seorang Baduy Dalam yang mengaku pernah melewati Jasinga.

Waktu shalat Ashar sebentar lagi habis, kami pun menuju ke Ciparahyang untuk mengambil air wudhu dengan air Ciparahyang yang begitu dingin dan jernih. Setelah itu, kami pun shalat Ashar.

Seusai menunaikan shalat Ashar, kembali kami berbincang-bincang. Pada pukul 18.15 WIB, kami mandi di Ciparahyang. Di Baduy Dalam, dilarang menggunakan sabun dan shampoo. Oleh karenanya kami mandi tanpa sabun dan shampoo.

Setelah itu, kami kembali ke rumah Kang Mursid. Disana kami dipersilahkan untuk menunaikan shalat Maghrib. Seusai menunaikan shalat Maghrib, kami memberikan ikan asin yang telah sengaja kami persiapkan sebelumnya. Tak lama kemudian, kami pun makan malam bersama Kang Mursid.

Sesudah makan malam, kami mengobrol ditemani oleh seorang tetangga Kang Mursid, karena Kang Mursid akan berangkat ke rumah Jaro Sami untuk bertemu beberapa Mahasiswa Universitas Tirtayasa, Fakultas FISIP, Serang - Banten.

Tepat pukul 21.00 WIB, aku keluar dari rumah Kang Mursid menuju lapangan, tepat di tengah-tengah perkampungan. Sambil menikmati malam yang indah, diterangi bulan purnama, aku duduk di batu-batu yang beragam ukurannya. Sambil bertasbih, takbir dan tahmid didalam hati, aku memuji kebesaran Ilahi, dengan terharu, aku merenung betapa Maha Perkasanya Allah yang Maha Pencipta.

Pukul 21.15 WIB, dengan bantuan penerang lilin yang kubawa, aku berjalan menuju Ciparahyang, di Ciparahyang aku mengambil airnya dengan botol plastic dan secuil tanah untuk kubawa sebagai kenang-kenangan.

Kemudian ikat kepala yang kugunakan aku cuci di Ciparahyang, lalu aku mandi, dan berwudhu untuk shalat Isya. Kemudian pulang ke rumah Kang Mursid. Sesampainya disana aku dipersilahkan masuk oleh Kang Mursid yang ternyata sudah datang dari rumah Jaro Sami, setelah bertemu dengan Mahasiswa Universitas Tirtayasa.

Setelah shalat Isya aku tidur. Udaranya begitu dingin menusuk hingga tulang belulang.
Jam 03.30 WIB, aku dibangunkan oleh temanku, yang hendak buang air kecil ke Ciparahyang. Untunglah Salman juga bangun, dan bersedia mengantarnya. Akhirnya aku tidur kembali.

Jam 05.00 WIB aku dibangunkan oleh Kang Mursid untuk shalat Shubuh. Sesudah itu diberitahukan kepada kami bahwa “Puun Yante” akan datang menemui kami, setelah shalat Shubuh. Akhirnya Puun Yante, datang beliau menanyakan kabar kami dan apa keperluannya. Setelah melakukan pertemuan dengan Puun Yante, beliaupun meminta kami mendoakannya. Sesudah itu, Puun Yante langsung pamitan, karena akan berangkat ke huma (ladang).

Tak lama kemudian, kami pun berpamitan kepada Kang Mursid. Sebelum berangkat, kami dibekali nasi putih dan ikan asin sebagai bekal untuk sarapan. Begitu baiknya Kang Mursid kepada kami, oleh karenanya kami pun berucap terima kasih. Kang Mursid berpesan agar saling mendoakan.

Akhirnya, kira-kira pukul 05.30 WIB kami pun berangkat pulang.

Setelah sekian lama berjalan pulang, sampailah kami pada Jembatan Sungai “Ciujung”, airnya begitu dingin dan jernih. Kami pun bersama-sama mandi disana. Di sini sudah termasuk kawasan Baduy Luar, oleh karena itu kami diperbolehkan menggunakan sabun, shampoo dan pasta gigi. Setelah mandi, tak lupa aku mengambil air Ciujung ke dalam botol plastic sebagai kenang-kenangan.

Setelah mandi, kami mengobrol di pinggir aliran sungai itu. di sebuah batu besar, aku berbincang-bincang dengan Salman, dan kami saling bertukar cinderamata. Salman menyerahkan sebuah pisau Baduy, dan aku menyerahkan sebuah pisau buatan Tarisi Kec. Jasinga, terus kami mengucapkan ijab kabul sebagai tanda persetujuan.

Selesai mengobrol, kami melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan kami melihat ayam utan dan burung-burung yang berkicau dengan sangat indah. Sambil berjalan, Salman mengambil tanaman paku yang masih muda untuk lalapan sarapan nanti. Saat menemukan sebuah saung, dipinggir huma, kami pun sarapan disana. Setelah istirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya sampailah kami pada sebuah perkampungan yang pernah terbakar, kira-kira 2 tahun lalu, menurut salman. Batu-batunya masih terlihat pada jalan-jalan dan di bawah perumahan tersebut batu-batu tersebut, dibalai dengan rapih. Desa itu adalah “Cicakal”, yang merupakan bagian dari Baduy Luar.

Sambil mengobrol dalam perjalanan dari Cicakal, Salman meminta dibacakan “Wangsit Prabu Siliwangi”, aku memenuhi permintaannya. Ku bacakan bait demi bait isi wangsit itu, dan Salman mengikuti setiap kata dari bait-bait wangsit yang kubaca. Sungguh membuatku terharu, baru pertama kalinya ada orang Baduy yang memintaku seperti itu.

Kemudian kami melihat tempat penyimpanan padi yang disebut “leuit”, dan kemudian kami menyeberang jembatan bambu, hingga kemudian sampailah kami di daerah “GAZEBOH”. Disini terlihat banyak orang Baduy luar yang menjajakan barang kerajinan dan barang-barang lainnya. Terlihat juga para mahasiswa yang menginap di rumah-rumah penduduk. Disini, kami pun melihat alat penumbuk padi yang disebut “lisung”.

Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan, kami berpapasan dengan orang-orang Baduy Luar yang telah kembali dari huma. Sambil berjalan berbarengan dengan para karyawan Pemda Cibinong Kab.Bogor, kami berbincang-bincang hangat. Sampailah kami di Desa Kaduketug, yang disitu terdapat sebidang tanah kosong yang pada sisi-sisinya dibatasi oleh batu-batu. Menurut Salman, suatu saat nanti ditanah kosong Itulah akan dibangun rumah untuk Jaro Daina jika sudah pensiun dari jabatannya sebagai Jaro.

Pukul 09.15 WIB, sampailah kami di rumah Salman. Kami istirahat melepas lelah sambil meminum air putih dan gula merah.

Tak lama kemudian kami berpamitan kepada Salman dan Jaro Daina, karena kami hendak kembali pulang ke Jasinga. Tak lupa kami banyak berterima kasih kepada keduanya dan masyarakat Baduy.

Inilah pengalaman pertama kami menginjakkan kaki di tanah Baduy. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan takkan bisa terlupakan… Meski melelahkan namun hati kami sangat puas.

Ternyata banyak pandangan dan penilaian yang salah dari masyarakat umum terhadap komunitas Orang Baduy. Dari apa yang kami dengar sebelumnya, ternyata tidak benar dengan apa yang kami alami. Orang Baduy begitu menghargai orang lain dan begitu patuh terhadap ajaran yang dianutnya.

Pukul 12.30 WIB kami berangkat dari Ciboleger menuju Rangkasbitung. Sesampainya disana, kami berpisah. Dia pulang ke Jakarta, dan aku pulang ke Jasinga.

Dalam perjalanan pulang, masih teringat begitu hangat dan begitu jelas pemandangan indah Baduy dan keramahtamahan masyarakatnya.

Pukul 17.00 WIB, aku tiba di Jasinga. Kemudian aku menemui Mantri Dalem/Wawan. Di kediamannya aku beristirahat, dan mandi di Cidurian.

Ingin rasanya kembali kesana lagi… Insya alloh….

Jasinga, 22 Mei 2005

Andri Mirwan Fachri
Kalakay Jasinga



Tuesday, November 18, 2008

PANGERAN ARYA PURBAYA “SINGA DARI BANTEN”

PANGERAN ARYA PURBAYA “SINGA DARI BANTEN”

Sedikit sekali sejarah Sunda yang mengisahkan Pangeran Arya Purbaya dari Kesultanan Banten dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Pangeran Arya Purbaya berusaha mempertahankan kebesaran Kesultanan Banten dari pihak pedagang VOC yang berusaha ingin memonopoli perdagangan bahkan berlanjut pada penjajahan.
Pangeran Arya Purbaya adalah salah satu putra dari istri-istri Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), yang menjadi penerus mahkota kesultanan yaitu Pangeran Gusti atau Sultan Abu Nasr Abdul Kahar (1672-1687) yang kelak disebut Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai beberapa istri diantaranya Ratu Adi Kasum sebagai permaisuri yang melahirkan Abdul Kahar (Sultan Abdul Nasr Abdul Kahar), dari Ratu Ayu Gede, Sultan Ageng dikaruniai 3 orang anak, yaitu P. Arya Abdul Alim, P. Ingayujapura (ingayudipura) dan Pangeran Arya Purbaya. Sedangkan dari istri-istri lainnya mempunyai beberapa anak yaitu P. Sugiri, TB. Raja Suta, TB. Husen, TB. Kulon, dan lain-lain.

Putra mahkota Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat menjadi pembantu ayahnya (Sultan Ageng) untuk mengurus urusan dalam negeri Kesultanan Banten. Sedangkan Pangeran Arya Purbaya membantu ayahnya untuk mengurus urusan luar negeri dan berkedudukan di Keraton kecil di Tirtayasa. Pemisahan pengurusan tata pemerintahan itu tercium oleh wakil VOC W. Chaeff yang menghasut Sultan Haji untuk mencurigai posisi adiknya yaitu P. Arya Purbaya, karena dapat mendominasi pemerintahan dan Sultan Haji tidak bisa naik tahta, atas hasutan Itulah terjadi persekongkolan antara Sultan Haji dan VOC.
Pada Bulan Mei 1680 Sultan Haji mengutus perwakilan untuk bertemu dengan Gubernur Jendral VOC di Batavia untuk mengukuhkan dirinya sebagai Sultan.
Pada tanggal 25 November 1680 Sultan Ageng Tirtayasa sangat marah kepada putra mahkota Sultan Haji karena ia memberi ucapan selamat kepada Gubernur baru Speelman yang menggantikan Rijkolf Van Goens padahal Kompeni baru saja menghancurkan gerilya Banten dan Cirebon. Dengan bantuan VOC, Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan menguasai Keraton Surosowan pada tahun 1681.
Pada tanggal 27 Februari 1682, pecah perang antara Ayah-Anak. Dalam waktu singkat, Sultan Ageng berhasil menguasai Keraton Surosowan. Pasukan Sultan Ageng berkoalisi dengan pasukan gabungan pelarian dari Makassar, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, Melayu. Karena daerah asal mereka dikuasai VOC dan menggabungkan diri dengan Banten, atas kekecewaan mereka terhadap raja-rajanya.
Sultan Haji berlindung di loji Belanda dan dilindungi oleh Jacob de Roy dan dipertahankan oleh Kapten Sloot dan W. Cheaff. Tanggal 7 April 1682 pauskan Kompeni dari Armada Laut mendesak Keraton Tirtayasa dan Keraton Surosowan, pasukan tersebut dipimpin Francois Tack, De Sain Martin dan Jongker. Sultan Ageng gigih berjuang dibantu Syekh Yusuf dari Makassar dan Pangeran Purbaya, serta Pasukan Makassar, Bali dan Melayu yang bermarkas di Margasana.
Tanggal 8 Desember 1682 Kacarabuan, Angke dan Tangerang dikuasai VOC, Sultan Ageng bertahan di Kademangan, tetapi pertahanan akhirnya jatuh juga setelah terjadi pertempuran sengit, pasukan Kademangan yang dipimpin P. Arya Wangsadiraja akhirnya mengungsi ke Pedalaman Banten yaitu Ciapus, Pagutan dan Jasinga.
Pada tanggal 28 Desember 1682, Pasukan Jongker, Michele dan Tack mendesak Keraton Tirtayasa, Sultan Ageng berhasil menyelamatkan diri dengan terlebih dahulu Pangeran Purbaya membakar Keraton Tirtayasa untuk menyelamatkan Ayahnya, Sultan Ageng, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf Makassar mengungsi ke Sajira dan Muncang. Sementara Pangeran Arya Purbaya dan pasukannya bergerak ke Parijan pedalaman Banten hingga ke Jasinga karena Pasukan Arya Wangsadireja berlebih dahulu mengungsi ke Jasinga.
Sultan Haji mengirimkan utusan ke Sajira untuk berdamai dan akhirnya pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Arya Purbaya mendatangi Surosowan. Akibat akal licik VOC dan Sultan Haji, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dibawa ke Batavia untuk diadili. Pangeran Purbaya berhasil meloloskan diri.
Pangeran Perbaya, Pangeran Kulon dan Syekh Yusuf Makassar meneruskan perjuangan melawan Kompeni. Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukan yang berjumlah 5000 orang, 1000 diantaranya Melayu, Bugis, Makassar yang siap mati bersama gurunya bergerak menuju Muncang terus ke Lawang Taji (Jasinga) menyusuri Sungai Cidurian kemudian ke Cikaniki terus ke Ciaruteun melalui Cisarua dan Jampang kemudian meneruskan ke Sukapura dan Mandala dengan tujuan Cirebon. Pangeran Purbaya kemudian menyusul bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake beserta pasukannya hingga ke Galunggung dan Singaparna (Tasikmalaya).
Pada tanggal 25 September 1683 pasukan Pangeran Kidul dan Pasukan Banten dan Makassar gugur di Citanduy (Padalarang). Syekh Yusuf Makassar ditangkap oleh Van Happel yang menyamar sebagai orang muslim, dibuagn ke Cape Town (Afrika Selatan). Pangeran Purbaya sempat mempertahankan pedalaman Banten dna membuat garis batas di Cikeas (antara Banten dan Batavia), Pangeran Purbaya mempertahankan Banten Selatan. Ia meneruskan perjuangan Syekh Yusuf Makassar dan akhirnya Pangeran Purbaya bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake gugur dalam pemberontakan di Galunggung (Tasikmalaya).
Sekelumit tentang Pangeran Purbaya dalam sejarah autentik sangat berjasa dalam mempertahankan Banten dan dipercaya oleh Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Makassar bahkan pasukan koalisi Makassar, Bugis dan Melayu.
Kisah Pangeran Purbaya dalam “Riwayat Jasinga Baheula” dengan menggunakan jenis huruf Pegon dengan dua bahasa yaitu bahasa Sunda dan Jawa Serang (Banten) secara singkat diceritakan bahwa Pangeran Purbaya adalah Patih atau Wakil Sultan Ageung Tirtayasa dan dalam perjalan ke pedalaman hutan Banten, Pangeran Purbaya beradu tanding dengan Gajah Putih, Patih dari Sriwijaya di Palembang, Sumatera. Mereka bertarung selama 40 hari 40 malam dan berakhir di Kadu Picung yang sekarang bernama Kadu Urug, Kadu Bungbang-Banten. Dalam pertarungannya keduanya sama kuat, namun pada akhirnya Gajah Putih kalah dan tenggelam kemudian berubah menjadi Gunung Krakatau.
Pangeran Purbaya terus berkelana dan berubah menjadi Singa jelmaan, hingga akhirnya singgah di Dukuh Buaran dekat Sungai dan Hutan. Kemudian ia berlindung di bawah rumah panggung yang tinggi sampai malam hari. Rumah itu milik Aki dan Nini, Aki tersebut bernama Buyut Apong atau Syekh Mustofa penduduk asli Buaran. Pangeran Purbaya dengan kondisi yang lelah dan pakaian compang-camping akibat bertarung dengan Gajah Putih dan bersembunyi menjelma menjadi Singa. Ketika sang Aki hendak keluar dan membawa Obor Baralak (Obor dari daun Kelapa kering), ia pun terkejut melihat seekor Singa bersembunyi di bawah rumahnya, sang Aki pun terkejut, dan berkata “ee…., Ja… Singa et amah….” Maka lokasi rumah itu dijadikan daerah dengan nama Jasinga (sekarang Kp. Jasinga).
Kemudian dikisahkan lagi bahwa Pangeran Purbaya yang berubah menjadi Singa yang bertempur dan mencakar cadas hingga berdarah (sekarang menjadi desa Singabraja, di Daerah Kec. Tenjo, Bogor). Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke Bali (Singa raja) dalam syiar Islam. Tapi akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jasinga, tapi ditengah perjalanan Pangeran Purbaya mengalami sakit (parna) hingga daerah tersebut diberi nama Singaparna, hingga akhirnya wafat di Gunung Galunggung.
Itulah kisah Pangeran Purbaya yang diceritakan dalam gaya bahasa Metafora dan berunsur mitos (babad) yang menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah Banten yang diramu dalam mitos dan legenda.
Kisah diatas menggambarkan peran Purbaya yang sangat berharga dalam kepahlawanan Banten. ada benarnya jika Pangeran Purbaya digambarkan seekor Singa dan Belanda digambarkan Seekor Gajah Putih. Dan kaitannya dengan Jasinga sebagai tempat berlindung Pangeran Purbaya ketika terjadi kudeta Sultan Haji.
Pangeran Purbaya sangat berjasa alam mempertahankan Banten terutama Banten Selatan. Pangeran Purbaya berkoalisi dengan Untung Suropati (Jawa Timur) ia pun membatasi untuk melawan Belanda dengan garis antara orang-orang Mataram, Batavia dan Sunda yang ada di Cikeas. Hingga kini nama Purbaya dijadikan nama suatu daerah di Sukabumi. Nama Jasinga pun dikaitkan dengan tokoh Purbaya (Ee…, Ja… Singa, eta mah…). Karena kata “Ja’ adalah kata identik Jasinga untuk mempertegas kata yang dimaksud. Sama halnya dengan kata “Da” yang ada di daerah Priangan.
Dalam kisah atau riwayat Sunda lainnya Pangeran Arya Purbaya disebut juga Pangeran Perbaya atau Pangeran Purabaya.
Itulah jasa Pangeran Arya Purbaya yang tidak bisa kita lupakan dalam menentang penjajahan Belanda.

Sumber :
1. Banten dalam pergumulan sejarah Sultan, Ulama dan Jawara., Nina H. Lubis. 2003
2. Catatan Masa Lalu Banten.
Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudori, 1993.
3. Sejarah Bogor 1, Saleh Danasasmita, 1983.
4. Sesepuh Cisonggom, Jasinga, Bogor.
5. Sesepuh Jasinga.
6. Naskah Mertasinga, Cirebon.


Disusun oleh :
Kalakay Jasinga, 2007

MACA SEH

MACA SEH

Maca seh berarti membacakan Manaqib (Riwayat hidup) Syeh Abdul Qadir Jailani. Masyarakat juga menyebutnya Masaseh atau Macakeun Tuan (maksudnya : Tuan Syeh Abdul Qadir Jailani). Maca seh dibacakan pada waktu acara-acara haul, nadar, panen, hajatan dan lain lain yang berhubungan dengan hajat hidup masyarakat sekitar Jasinga. Syeh Abdul Qadir Jailani merupakan tokoh sufi abad XI sekaligus guru bagi madrasah-madrasah yang ada di Bagdad dan sekitarnya. Beliau mempunyai tingkat karomah yang tinggi sehingga disebut bapaknya para wali-wali di seluruh dunia. Menurut masyarakat yang meyakininya, beliau adalah tokoh yang sangat disayang Allah [dikanyaah, dipikadeudeuh ku Gusti Pangeran].

Manaqib berisi riwayat hidup Syeh Abdul Qadir Jailani yang di dalamnya terbagi beberapa pupuh diantaranya Kinanti, Sinom, Dangdanggula, Pangkur, Pucung dalam bahasa Jawa Serang (Banten). Ada juga Manaqib yang dikemas dalam bahasa Sunda tetapi oleh masyarakat dirasakan kurang karomahnya, lebih baik Manaqib dibaca menggunakan bahasa Jawa Serang (Banten) karena pada masa sebelumnya Banten merupakan sentral agama dan budaya. Manaqib berbahasa sunda didatangkan oleh tokoh-tokoh agama dari daerah Sukabumi dan priangan.
Banyak manfaat dari pembacaan macaseh atau manaqib yang dirasakan masyarakat seperti adanya berkah, rejeki, ketenangan hidup, kemuliaan hidup. Akan lebih terasa manfaatnya jika Maca Seh dibacakan sendiri dalam waktu 40 kali malam jumat dengan cara berkumpul bersama teman atau tetangga dan setelah hari jumat terakhir diadakan selamatan dan disajikan pula hidangan berupa kopi manis, kopi pahit, air putih, susu, air kelapa. Maca seh dimulai dari setelah waktu isya hingga dini hari [janari gede] sekitar pukul tiga pagi. Tetapi ada pula yang selesai hingga pukul 12 malam. Apabila yang membacakan tujuh orang, pembacaan dilakukan sambung menyambung saling bergantian. Pada musim panen maca seh bisa dibacakan secara bergantian dan bertempat di masjid yang dipimpin oleh tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat yang bisa memimpin ritual. Di dalam masjid masyarakat berkumpul dan pemimpin ritual membacakan manaqib dan di tengah-tengah kumpulan itu disajikan tumpeng dan nasi ayam kebuli.Setelah pembacaan selesai Tumpeng nasi kebuli dibagikan secara merata untuk dimakan atau dibawa pulang sabagai berkah (bertabaruk). Banyak orang yang berharap berkah dari Maca Seh karena dengan karomahmya Tuan Syeh Abdul Qadir Jailani diyakini bisa menentukan jalan hidup yang mulia,mendapatkan rejeki dan tenang dalam segala urusan.
Maca seh dibawakan dengan nada-nada tertentu tergantung dari jenis pupuhnya karena tiap pupuh berbeda lagu. Lagu lagu pupuh bernotasi tradisional sunda baik sunda pesisir (Serang) maupun sunda pedalaman. Nada-nadanya ada juga yang panjang melengking seperti kesenian beluk dari priangan sampai sampai ada juga orang yang mengatakan bahwa maca seh juga disebut Beluk (hanya tema saja yang berbeda). Di Jasinga Maca Seh masih dilaksanakan sebagian daerah seperti Koleang, Tarisi, Bagoang, Nanggung hingga arah utara Jasinga.
Selain maca seh ada pula tradisi yang dapat membawa berkah bagi kelangsungan hidup, yaitu pembacaan kutub rabbani yang di dalamnya berisi shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya (Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) dan diakhiri dengan sanjungan terhadap puncak kesucian wali Allah (Kutub), yaitu Syeh Abdul Qadir Jailani.
Hingga saat ini tradisi maca seh masih tetap dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Jasinga karena masyarakat masih tetap mempertahankannya sebagai tradisi peninggalan masa lalu yang disebarkan oleh ulama-ulama dari Banten, dan yang lebih penting adalah masyarakat masih menginginkan adanya berkah dari tradisi tersebut. Adapun sebagian masyarakat sudah meninggalkannya dikarenakan adanya modernisasi dan adanya perbedaan-perbedaan dalam tradisi. Pada bagian lain tradisi ini termasuk dalam budaya Sastra yang seharusnya dilestarikan.
.

Jasinga, 15 Agustus 2008
KALAKAY JASINGA

Sumber : - Abah Ukay, Desa Bagoang
- Masyarakat Desa Koleang -



BAHASA DIALEK JASINGA

BAHASA DIALEK JASINGA

“....Urang Bogor heuras genggerong”, begitulah yang diutarakan oleh Bpk.Eman Sulaeman selaku budayawan Bogor dalam sebuah seminar sejarah di Kampung Budaya Sindang Barang Bogor. Menurutnya pada masa lalu sekitar abad 17-18 M, Bogor tidak pernah dijajah secara langsung oleh Mataram seperti daerah lainnya di wilayah Priangan. yang sekaligus menyebarkan undak usuk basa.
Jasinga yang letaknya berada paling barat Bogor dan berbatasan langsung dengan Banten sangat terpengaruh oleh budaya Banten walaupun memiliki bahasa yang sama dengan bahasa Bogor, heuras genggerong (kasar dalam berbicara). Bahasa dialek Jasinga bersifat egaliter tanpa membeda-bedakan pangkat, jabatan atau strata sosial.
Dalam keseharian masyarakat Jasinga bahasa sunda dapat digunakan pada semua kalangan. Para pendatang dari Priangan akan merasa kaget ketika bahasa Jasinga terdengar kasar dan tidak nengenal undak usuk basa. Akan tetapi bukan berarti masyarakat Jasinga juga berperilaku kasar, mereka menggunakan bahasa kasar (dalam konteks undak usuk basa merupakan bagian paling bawah) sebagai bahasa sehari-hari dengan penuh keakraban dan mempunyai tingkat sosial yang tinggi. Pada masa anak-anak, mereka dikenalkan untuk berbicara bahasa sunda lemes oleh orang tua dan gurunya. Jika menginjak masa remaja maka bahasa dominan yang digunakan adalah dialek Jasinga, hal ini tidak terlepas dari faktor lingkungan tetapi sedikitnya mereka mengenal bahasa lemes (bahasa halus dalam tingkatan undak usuk basa).

Bagi masyarakat Jasinga penggunaan undak usuk basa sangat sulit untuk dipelajari karena bahasanya yang terbagi menjadi beberapa tingkatan. Mereka menganggap hal ini sebagai sesuatu yang menghalang-halangi dalam berkomunikasi, terutama kaum yang muda sebagian enggan mempelajarinya.Walaupun tingkatan bahasa sunda ini telah memperkaya khasanah budaya sunda akan tetapi substansinya tetap saja hal itu menjadi sesuatu yang menyulitkan dan di luar dari kebiasaan berdialek Jasinga.
Dalam acara-acara yang sifatnya resmi seperti forum, hajatan, mimbar, mereka menggunakan bahasa lemes. Penggunaan bahasa ini mengikuti tradisi-tradisi yang ada di priangan, dalam hal ini Bandung sebagai sentral kebudayaan Jawa Barat. Sebagian masyarakat Jasinga menggunakan bahasa lemes sebagai tata krama, mereka mengenalnya dari pendidikan. Bahasa lemes juga digunakan untuk mengimbangi pembicaraan dengan para pendatang dari Priangan seperti Bandung, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis dan Sumedang yang sengaja menetap karena tugas atau hanya singgah sementara karena Jasinga bagian dari Bogor dan termasuk wilayah Propinsi Jawa Barat maka undak usuk basa harus dikenalnya.
Dialek Jasinga terbagi lagi menjadi beberapa dialek di dalamnya seperti dialek Koleang, dialek Tegal, dialek Pangradin, dialek Ngasuh, dialek Sipak, dialek Bagoang dan dialek Jasinga itu sendiri. Dielek-dialek ini disertai dengan logat yang khas dari masing-masing daerah. Perbedaan itu sangat unik dan sepertinya jarang sekali terdapat dalam wewengkon sunda lainnya. Mengenai perbedaan dialek ini belum diketahui dari mana asal muasalnya, hal ini perlu penelitian lebih lanjut.
Sekali lagi bahasa dialek Jasinga tidaklah harus menjadi sesuatu yang dimarjinalkan, bukankah ini juga yang termasuk memperkaya khasanah budaya sunda? Dan masyarakat yang menggunakan dialek bahasa tanpa menggunakan undak usuk basa bukan berarti mereka tidak berpendidikan, orang kampung dan tidak tahu tata krama, fenomena ini seperti dalam paribasa “ urang gunung bau lisung, si manyang munyung nu datang ti curug ngebul” atau“jauh ke bedug-anggang ka dulang.

September 2008, KALAKAY JASINGA



ASAL USUL NAMA JASINGA

ASAL USUL NAMA JASINGA

Beberapa cerita rakyat tentang lahirnya beberapa nama-nama desa atau daerah Bogor memang ada, seperti Rancamaya, Bantarjati, Ciaruteun, Cikeas, Kedunghalang, dan sebagainya. Untuk wilayah Bogor bagian barat terdapat nama-nama daerah yang cukup tua seperti Ciaruteun, Argapura (Rengganis) dan Jasinga.

Pada masa lalu, Jasinga meliputi batas-batas Sajira di sebelah Barat, Tangerang di sebelah Utara, Bayah di sebelah Selatan dan Cikaniki di sebelah Timur. Berlalunya waktu, Jasinga kini meliputi daerah Cigudeg, Tenjo, Nanggung, Parungpanjang dan Jasinga sebagai titik pusatnya.

Oleh orang-orang tua dulu Jasinga disebut juga Bogor-Banten, bahkan juru pantun terkenal Sunda yaitu Aki Buyut Baju Rambeng berasal dari daerah Bogor-Banten atau yang tinggal di daerah Pegunungan Tonggoheun Jasinga. Disebut Bogor-Banten karena posisiya berbatasan langsung dengan wilayah Banten. Tidak hanya batas wilayah tetapi ditinjau dari budaya, perilaku serta dialek bahasa mirip sekali dengan masyarakat Banten yang sebagian tidak terpengaruh dengan budaya Priangan. Kini Jasinga termasuk wilayah administrasi Kabupaten Bogor.

Mengenai asal usul nama Jasinga sendiri hingga kini masih terdapat berbagai versi. Kebanyakan versi yang melekat dan diyakini masyarakat yaitu cerita yang didapat dari penuturan turun temurun dari mulut ke mulut para sesepuh setempat. Hanya orang-orang tertentu saja yang merujuk kepada sumber autentik dan masih dijadikan bahan kajian bagi masyarakat Jasinga untuk menambah versi.

Ada beberapa versi mengenai asal usul nama Jasinga antara lain :
1. Mitos seekor Singa yang melegenda, jelmaan dari tokoh-tokoh Jasinga.
2. Pembukaan lahan yang dilakukan oleh Wirasinga, hingga nama lahan tersebut dijadikan nama Jasinga atas jasa Wirasinga.
3. Jayasingharwarman (358-382 M) Raja Tarumanagara I yang mendirikan Ibukota dengan nama Jayasinghapura.
4. Dua dari tujuh ajaran Sanghyang Sunda yaitu Gajah lumejang dan Singa bapang yang digabungkan menjadi Jasinga.

Pendapat pertama, bahwa nama Jasinga dikaitkan dengan riwayat atau cerita yang dituturkan oleh para sesepuh Jasinga seperti Wirasinga, Sanghyang Mandiri dan Pangeran Arya Purbaya dari Banten. Dalam setiap hidupnya serta perjuangannya mempunyai wibawa seperti seekor singa. Bahkan sempat berwujud menjadi seekor Singa. Perwujudan Singa tersebut membuat orang disekitar yang melihatnya menjadi terkejut dan kagum, dan setiap orang yang melihat akan mengucapkan : “Eeh.. Ja.. Singa eta mah”. Kata “Ja” menjadi kata identitas tersendiri di Jasinga yang berguna untuk memperjelas kalimat berikutnya, seperti ”Da” di daerah Priangan.

Pendapat kedua meyakini bahwa Wirasinga keturunan Sanghyang Mandiri (Sunan Kanduruan Luwih) membuka lahan di Pakuan bagian barat (Ngababakan lembur anyar). Nama daerah tersebut dinamakan Jasinga oleh Sanghyang Mandiri serta menobatkan Wirasinga sebagai penguasa baru Jasinga atau sebagai Jaya Singa sebuah daerah yang makmur yang dipimpin oleh Wirasinga, seperti Jakarta yang berasal dari daerah yang bernama Jaya Karta dengan salah satu pemimpinnya yaitu Pangeran Jaya Wikarta.

Pendapat ketiga cukup menarik karena mengacu pada sejarah autentik bahwa Jasinga berasal dari kata Jayasingha. Diceritakan bahwa seorang Reshi Salakayana dari Samudragupta (India) dikejar-kejar oleh Candragupta dari Kerajaan Magada (India), hingga akhirnya mengungsi ke Jawa bagian barat. Ketika itu, Jawa bagian barat masih dalam kekuasaan Dewawarman VIII (340-362 M) sebagai raja dari kerajaan Salakanagara. Jayasingharwarman menikah dengan Putri Dewawarman VIII yaitu Dewi Iswari Tunggal Pertiwi, dan mendirikan ibukotanya Jayasinghapura. Jayasinghawarman (358-382 M) bergelar Rajadiraja Gurudharmapurusa wafat di tepi kali Gomati (Bekasi) Ibukota Jayasinghapura dipindahkan oleh Purnawarman Raja Taruma III (395-434 M) ke arah pesisir dengan nama Sundapura.

Satu tambahan sebagai pendapat keempat bahwa Jasinga berasal dari kata Gajah Lumejang Singa Bapang. Dua dari tujuh ajaran Sanghyang Sunda sekaligus menetapkannya sebagai suatu tempat komunitas Sunda. Tujuh ajaran tersebut yaitu : Pangawinan (Pedalaman Banten), Parahyang (Lebak Parahyang), Bongbang (Sajira), Gajah Lumejang (Parung Kujang-Gn. Kancana), Singa Bapang (Jasinga), Sungsang Girang (Bayah), Sungsang Hilir (Jampang-Pelabuhan Ratu).

Tujuh ajaran tersebut mempengaruhi Purnawarman sebagai Raja Taruma III (395-434 M), sehingga ia mendirikan ibukota dengan nama Sundapura. Keruntuhan Taruma terjadi pada masa Linggawarman (669-732 M) sebagai Raja Taruma XII karena begitu kuatnya pengaruh Sunda. Putri Linggawarman yaitu Dewi Manasih (Minawati) dinikahkan dengan Tarusbawa putra Rakyan Sunda Sembawa. Tarusbawa menjadi Raja Sunda (669-732 M) dan Taruma pun runtuh. Pengaruh Hindu pun akhirnya melemah dan menjadi ajaran leluhur ajaran Sanghyang Sunda.

Dua titik wilayah yang merupakan Sanghyang Sunda yaitu Gajah Lumejang-Singa Bapang dijadikan tempat laskar bagi Kerajaan Sunda. Dan kedua nama tersebut disatukan menjadi Gajah Lumejang Singa Bapang kemudian menjadi nama Jasinga (Ja=Gajah Lumejang, Singa=Singa Bapang). Perpaduan dua Filosofi Gajah dan Singa.

Tujuh ajaran Sanghyang Sunda tersebut tercantum dalam Kitab Aboga yang diperkirakan dibuat pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran seperti dituturkan oleh narasumber bahwa kitab tersebut di bawa ke Leiden pada akhir abad 19.

Dengan memaknai baik secara kosakata (etimologi) maupun perlambangan (Hermeneutika), Jasinga mempunyai makna yang berarti. Dengan nama Jasinga lahirlah sebuah cerita rakyat melegenda hingga kini bagi masyarakat Jasinga. Di samping itu, adanya sosok Singa sebagai mitos merupakan wujud kewibawaan para penghulu Jasinga.
Nama Jasinga ditinjau secara autentik yaitu menunjuk pada naskah-naskah kuno atau kajian sejarah Sunda terdapat Jayasinghapura yang berarti gerbang kemenangan yang didirikan oleh Raja Taruma I (Jayasinghawarman).

Dalam naskah sejarah yang ditulis dan dirangkum oleh Panitia Wangsakerta Panembahan Cirebon, nama Jasinga terdapat dalam sejarah Lontar sebagai tempat rujukan untuk melengkapi Kitab Negara Kretabhumi yang disusun untuk pedoman bagi raja-raja nusantara. Kitab itu disusun selama 21 tahun (1677-1698 M) pada masa-masa genting yaitu beralihnya raja-raja di Nusantara ke dalam penjajahan Belanda. Lontar itu berjudul ”Akuwu Desa Jasinga”. Perlu dikaji bila naskah itu masih ada.

Dari mitos seekor Singa, diyakini bahwa sampai saat ini masi ada beberapa ekor Singa yang menjaga wilayah Jasinga walaupun dalam bentuk gaib. Padahal di Jawa Barat tidak ditemukan habitat singa walaupun di Indonesia sekalipun. Jika dikaitkan dengan datangnya raja-raja pendahulu dari India, maka perlambang Singa berasal dari India pula, bisa saja wujud nyata seekor Singa pernah dibawa oleh pembesar yang datang dari India.

Jasinga tidak layaknya seperti legenda-legenda di Jawa Barat lainnya yang begitu percaya adanya Harimau Pajajaran serta dijadikan lambang atau filosofi tertentu. Masyarakat Jasinga meyakini adanya seekor Singa, hingga pusat kecamatan dilambangkan sebuah Tugu Singa.

Nama singa juga terdapat pada sebuah tanaman yang bernama Singadepa yang tumbuh di hutan-hutan. Daun Singadepa berguna untuk memandikan bayi yang baru lahir, pengharum badan, serta sebagai pencuci darah. Tumbuhan Singadepa mempunyai tinggi + 30 cm, hidup di daerah yang lembab dan tertutup oleh pohon-pohon yang lebih tinggi. Di Jasinga tanaman Singadepa sangat sedikit dan ada di hutan-hutan tertentu, kecuali di hutan pedalaman Baduy hingga ke Lebaksibedug (Citorek) di dekat Gunung Bapang.

Itulah beberapa pendapat mengenai asal usul nama Jasinga yang masih perlu diteliti lebih lanjut keberadaannya, dan diperlukan penelitian Sejarawan. Kitapun masih bertanya-tanya benarkah hewan-hewan Singa itu ada di Jawa Barat bahkan di Indonesia sekalipun.

Terlepas dari itu, orang sependapat bahwa Singa adalah suatu perlambang (hermeneutika) kewibawaan, kejujuran, ketegasan, kemenangan walaupun hanya diceritakan dalam mitos dan legenda. Wallahu’alam.....

Sumber :
1. Sejarah Bogor 1, Saleh Danasasmita, 1983.
Pemerintah Kota Madya DT. II Bogor.
2. Drs. Moh. Amir Sutaarga, Prabu Siliwangi atau Prabu Purana Guru Dewata
Prana Sir Baduga Maharaja Ratu Hadji di Pakuan Padjadjaran. 1473-1513 M.
Bandung. PT. Duta Rakjat, 1965.
3. Prof. Dr. Ayat Rohaedi, SUNDAKALA Cuplikan sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-Naskah Panitia Wangsakerta. Cirebon.
Jakarta, Pustaka Jaya, 2005.
4. Atca & Negara Krethabumi 1.5
Ayat Rohaedi Karya Kelompok kerja di bawah tanggung jawab Pangeran Wangsakerta (Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), Bandung, 1986.
5. Drs. Yosep Iskandar, SAWALI.
Komunitas Urang Sunda Internet (KUSNET)
6. Para Sesepuh Jasinga.
7. Kang Yasid dan kang Subani, Warga Cibeo-Kanekes.
8. T. A. Subrata Wiriamiharja, SH. (TASWIR), Muara Seni Bogor Selatan.

Disusun oleh :
Kalakay Jasinga, 2007
http://kalakayjasinga.blogspot.com